Anda Pengunjung Ke

My TimeLine

Diberdayakan oleh Blogger.

Followers

Cari Blog Ini

Memuat...

Share it

Jumat, 25 Maret 2011

Sang Pemimpin

Oleh: A. Mustofa Bisri

Zahir sedang berada di pasar Madinah ketika tiba-tiba seseorang memeluknya kuat-kuat dari belakang. Tentu saja Zahir terkejut dan berusaha melepaskan diri, katanya: “Lepaskan aku! Siapa ini?”

Orang yang memeluknya tidak melepaskannya justru berteriak: “Siapa mau membeli budak saya ini?” Begitu mendengar suaranya, Zahir pun sadar siapa orang yang mengejutkannya itu. Ia pun malah merapatkan punggungnya ke dada orang yang memeluknya, sebelum kemudian mencium tangannya. Lalu katanya riang: “Lihatlah, ya Rasulullah, ternyata saya tidak laku dijual.”

“Tidak, Zahir, di sisi Allah hargamu sangat tinggi;” sahut lelaki yang memeluk dan ‘menawarkan’ dirinya seolah budak itu yang ternyata tidak lain adalah Rasulullah, Muhammad SAW.

Zahir Ibn Haram dari suku Asyja’, adalah satu di antara sekian banyak orang dusun yang sering datang berkunjung ke Madinah, sowan menghadap Kanjeng Nabi Muhammad SAW. Tentang Zahir ini, Rasulullah SAW pernah bersabda di hadapan sahabat-sahabatnya, “Zahir adalah orang-dusun kita dan kita adalah orang-orang-kota dia.”

***

Nabi Muhammad SAW Anda anggap pemimpin apa saja, pemimpin formal kah; pemimpin non formal; pemimpin agama; pemimpin masyarakat; atau pemimpin Negara, Anda akan sulit membayangkannya bercanda di pasar dengan salah seorang rakyatnya seperti kisah yang saya tuturkan (berdasarkan beberapa kitab hadis dan kitab biografi para sahabat, Asad al-ghaabah- nya Ibn al-Atsier ) di atas.

Tapi itulah pemimpin agung, Uswah hasanah kita Nabi Muhammad SAW. Dari kisah di atas, Anda tentu bisa merasakan betapa bahagianya Zahir Ibn Haram. Seorang dusun, rakyat jelata, mendapat perlakuan yang begitu istimewa dari pemimpinnya. Lalu apakah kemudian Anda bisa mengukur kecintaan si rakyat itu kepada sang pemimpinnya? Bagaimana seandainya Anda seorang santri dan mendapat perlakuan demikian akrab dari kiai Anda? Atau Anda seorang anggota partai dan mendapat perlakuan demikian dari pimpinan partai Anda? Atau seandainya Anda rakyat biasa dan diperlakukan demikian oleh --tidak usah terlalu jauh: gubernur atau presiden—bupati Anda?
Anda mungkin akan merasakan kebahagiaan yang tiada taranya; mungkin kebahagiaan bercampur bangga; dan pasti Anda akan semakin mencintai pemimpin Anda itu.

Sekarang pengandaianya dibalik: seandainya Anda kiai atau, pimpinan partai, atau bupati; apakah Anda ‘sampai hati’ bercanda dengan santri atau bawahan Anda seperti yang dilakukan oleh panutan agung Anda, Rasulullah SAW itu?

Boleh jadi kesulitan utama yang dialami umumnya pemimpin, ialah mempertahankan kemanusiaanya dan pandangannya terhadap manusia yang lain. Biasanya, karena selalu dihormati sebagai pemimpin, orang pun menganggap ataukah dirinya tidak lagi sebagai manusia biasa, atau orang lain sebagai tidak begitu manusia.

***

Kharqaa’, perempuan berkulit hitam itu entah dari mana asalnya. Orang hanya tahu bahwa ia seorang perempuan tua yang sehari-hari menyapu mesjid dan membuang sampah. Seperti galibnya tukang sapu, tak banyak orang yang memperhatikannya. Sampai suatu hari ketika Nabi Muhammad SAW tiba-tiba bertanya kepada para sahabatnya, “Aku kok sudah lama tidak melihat Kharqaa’; kemana gerangan perempuan itu?”

Seperti kaget beberapa sahabat menjawab: “Lho, Kharqaa’ sudah sebulan yang lalu meninggal, ya Rasulullah.” Boleh jadi para sahabat menganggap kematian Kharqaa’ tidak begitu penting hingga perlu memberitahukannya kepada Rasulullah SAW. Tapi ternyata Rasulullah SAW dengan nada menyesali, bersabda: “Mengapa kalian tidak memberitahukannya kepadaku? Tunjukkan aku dimana dia dikuburkan?”. Orang-orang pun menunjukkan kuburnya dan sang pemimpin agung pun bersembahyang di atasnya, mendoakan perempuan tukang sapu itu.

***

Nabi Muhammad SAW Anda anggap pemimpin apa saja, pemimpin formal kah; pemimpin non formal; pemimpin agama; pemimpin masyarakat; atau pemimpin Negara, Anda pasti akan sulit membayangkan bagaimana pemimpin seagung beliau, masih memiliki perhatian yang begitu besar terhadap tukang sapu, seperti kisah nyata yang saya ceritakan (berdasarkan beberapa hadis sahih) di atas.

Tapi itulah pemimpin agung, Uswah hasanah kita Nabi Muhammad SAW. Urusan-urusan besar tidak mampu membuatnya kehilangan perhatian terhadap rakyatnya, yang paling jembel sekalipun.

***

Anas Ibn Malik yang sejak kecil mengabdikan diri sebagai pelayan Rasulullah SAW bercerita: “Lebih Sembilan tahun aku menjadi pelayan Rasulullah SAW dan selama itu, bila aku melakukan sesuatu, tidak pernah beliau bersabda, ‘Mengapa kau lakukan itu?’ Tidak pernah beliau mencelaku.”

“Pernah, ketika aku masih kanak-kanak, diutus Rasulullah SAW untuk sesuatu urusan;” cerita Anas lagi, “Meski dalam hati aku berniat pergi melaksanakan perintah beliau, tapi aku berkata, ‘Aku tidak akan pergi.’ Aku keluar rumah hingga melewati anak-anak yang sedang bermain di pasar. Tiba-tiba Rasulullah SAW memegang tengkukku dari belakang dan bersabda sambil tertawa, ‘Hai Anas kecil, kau akan pergi melaksanakan perintahku?’ Aku pun buru-buru menjawab, ‘Ya, ya, ya Rasulullah, saya pergi.’”

Nabi Muhammad SAW Anda anggap pemimpin apa saja, pemimpin formal kah; pemimpin non formal; pemimpin agama; pemimpin masyarakat; atau pemimpin Negara, dapatkah Anda membayangkan kasih sayangnya yang begitu besar terhadap abdi kecilnya? Tapi pasti Anda dapat dengan mudah membayangkan betapa besar kecintaan dan hormat si abdi kepada ‘majikan’nya itu.

Waba’du; apakah saya sudah cukup bercerita tentang Nabi Muhammad SAW, sang pemimpin teladan yang luar biasa itu? Semoga Allah melimpahkan rahmat dan salamNya kepada beliau, kepada keluarga, para sahabat, dan kita semua umat beliau ini.
Amin.
Read more...
separador

Kamis, 10 Maret 2011

DUNIA SERBA TUHAN ATAWA TUHAN SEMAKIN BANYAK

Di mana-mana semakin banyak tuhan
Di Irak dan Iran
Di Israel dan Afganistan
Di Libanon dan Nikaragua
Di India dan Srilangka
Di JEpang dan Cina
Di Korea dan Pilipina

Tuhan semakin banyak
Di Amerika dan Rusia
Di Eropa dan Asia
Di Afrika dan Australia
Di NATO dan PAlta Warsawa
Di PBB dan badan-badan dunia

Dimana-mana tuhan, ya Tuhan
Disini pun semua serba tuhan
Disini pun tuhan merajalela
Memenuhi desa dan kota
Mesjid dan gereja
Kuil dan pura
Menggagahi mimbar dan seminar
Kantor dan sanggar
Dewan dan pasar
Mendominasi lalu lintas
Orpol dan ormas
Swasta dan dinas

Ya Tuhan, di sana-sini semua serba tuhan
Pernyataanku pernyataan tuhan!
Kebijaksanaanku kebijaksanaan tuhan!
Keputusanku keputusan tuhan!
Pikiranku pikiran tuhan!
Pendapatku pendapat tuhan!
Tulisanku tulisan tuhan!
Usahaku usaha tuhan!
Khutbahku khutbah tuhan!
Fatwaku fatwa tuhan!
Lembagaku lembaga tuhan
Jama’ahku jamaah tuhan!
Keluargaku keluarga tuhan!
Puisiku puisi tuhan!
Kritikanku kritikan tuhan!
Darahku darah tuhan!
Akuku aku tuhan!

Ya Tuhan!

1987+1429
Read more...
separador

Pesantren dan Rekonstruksi Akhlak

Oleh: Nasrul Afandi *

Dr. Alexis Carrel, dalam bukunya Man The Unknown, Ia mengatakan, bahwa dunia telah dilanda dekadensi moral. Realitas kehancuran akhlak yang telah lama “kronis” dan semakin gencar melanda bangsa Indonesia ini, kiranya tidaklah berlebihan bila Indonesia dinominasikan sebagai salah satu sudut bagian dari sektor atau wilayah yang dimaksud oleh salah satu ilmuwan kenamaan asal Perancis itu.
Innalillah(ungkapan terjadi bencana kecil), bahkan innalillahi wa inna ilaihi roji’un (ungkapan terjadi bencana besar) !!!, bangsa kita telah dilanda bencana atau musibah kehancuran akhlak. Musibah besar itu semakin gencarnya menghantam tanah air kita. Realitasnya, untuk sekarang ini, tidak satu pun ahli pendidikan yang tidak mengatakan, “bahwa kondisi dunia, di antaranya Indonesia sekarang telah benar-benar mengalami dekadensi akhlak yang luar biasa –dalam standar umum sekalipun, apalagi yang benar-benar akhlakulkarimah--“.

Ironisnya, hal itu juga telah menjangkit dan akrab bergumul dengan komunitas berpendidikan. Bahkan naifnya lagi, musibah itu, mereka umumnya menyebut hal biasa. Misalnya, biasa jaman modern, generasi muda-mudinya bergaul bebas dan jauh dari akhlakulkarimah. Sungguh naif dan memilukan, bukan ?.

Kita menyaksikan, utamanya fenomena yang sangat memprihatinkan, adalah dunia lingkup tunas-tunas bangsa dalam gejolak “pemelesetan” dari globalisasi dan rekayasanya ini. Padahal generasi muda adalah mahkota dari suatu bangsa. “Jika putra-putri bangsa itu baik, maka suatu negara menjadi harum, dan justeru sebaliknya, bila generasi mudanya telah rusak akhlaknya, maka busuklah suatu negara”. Demikian komunitas terdidik sering berujar.
Sekali lagi, musibah besar itu semakin gencarnya menyerang. Di mana berstatusnya putra-putri bangsa sebagai siswa-siswi, atau bahkan mahasiswa-mahasiswi alias bukan siswa-siswi biasa lagi. Bukanlah sebuah jaminan atau “asuransi” meningkat dan terjaganya intelektualitas mereka(kita), baik pemikiran maupun segala sikapnya. Padahal, merekalah yang dipastikan akan mengemudi bangsa di masa mendatang, meskipun pada level atau lahan yang berbeda. Namun, ’’bibit nahkoda ‘’ bangsa ini sangat naif dan memperihatinkan.
*****
Peran Pesantren Dalam Rekonstruksi Akhlak

KH. Abdurrahman Wahid dalam bukunya(Menggerakkan Tradisi: Esai-Esai Pesantren h, 171). Ia berpendapat, bahwa pondok pesantren seperti akademi militer atau biara (monastery, convent) dalam arti bahwa mereka yang berada di sana mengalami suatu kondisi totalitas.

Sehingga, dengan faktor tersebut, penulis berpendapat, di tengah-tengah terus rusaknya akhlak dari “atap langit” sampai “akar bumi” bangsa kita ini. Pondok pesantren akan sangat tetap memungkinkan untuk tetap survive sebagai ‘’transmisi atau agen akhlakulkarimah’’. untuk “memfilter” keluar-masuknya budaya. Demi terimplementasinya akhlakulkarimah dalam berbagi aspek kehidupan masyarakat.
Hal tersebut, sesuai pendapat Clifford Geertz yang dituangkan dalam bukunya (‘The Javanese Kyai: The Changing Role of a Cultural Broker’, vol, 2, h, 228-249), bahwa kiai pesantren punya peran besar sebagai “makelar budaya” (Cultural Broker).
Tetapi, mentelaah pendapat Geertz itu. Penulis tetap berpendapat: “memfilter budaya”, adalah dalam konteks menuju terimplementasinya akhlakulkarimah dalam kehidupan manusia. Namun, pesantren akan bisa tetap berfungsi sebagai "fiter budaya" juga, bila di masing-masing pondok pesantren, pendidikan akhlak masih dominan dan dimaksimalkan.
Sebab, dengan optimalnya akhlakulkarimah(minimalnya pendidikan) di masing-masing pesantren itulah, maka pesantren akan tetap mampu untuk berperan aktif dalam “memfilter budaya”, karena dengan adanya akhlakulkarimah itu pula, dari sekian banyak gelombang budaya yang terus kencang mengalir dan membanjiri manusia, tapi komunitas pesantren (utamanya santri di masing-masing persantren) mudah menerima terhadap hasil "penyaringan budaya” yang dipimpin oleh kiyai dan kemudian para santri langsung melaksanakan dan dengan sendirinya mengalirkannya budaya baru yang telah "disaring" itu, kepada publik(lingkungan) setelah mereka(para santri) kembali ke kampung masing-masing. Untuk menerapkan budaya dalam kehidupan masyarakat yang tidak bertabrakan dengan akhlakulkarimah.
Namun sebaliknya, bila akhlakulkarimah(akhlak terpuji) telah pias di dalam kehidupan pesantren, dan dikalahkan oleh akhlakussayyi’ah(akhlak tercaci) maka pesantren dalam konteks "makelar budaya" tidak akan begitu banyak berperan, atau bahkan sama sekali tidak akan bisa berperan.
Hal itu, bisa dilihat dan dibuktikan dalam komunitas akademisi yang free _expression, baik di dalam, utamanya di luar kampus(kost-kostan). Dengan sendirinya tidak memungkinkan dunia kampus untuk bisa berfungsi sebagai “medium budaya”, tetapi lebih tepat dan lebih empuk sebagai "obyek atau mangsa budaya". Kecuali, secara individual komunitas akademisi punya kemampuan untuk melakukannya, dan tentunya, dengan lingkungan(kost) yang tidak mendukung itu, hal itu minim sekali. Karenanya, sangatlah tepat sekarang-sekarang ini, banyak bermunculan pesantren sebagai asrama mahasiswa. Sehingga merupakan salah satu faktor yang cukup signifikan untuk mengusung(moral) generasi yang berakhlakulkarimah(mengenai hal ini, bisa lihat tulisan saya “mengkaji Ulang Pondok Pesantren Mahasiswa”, di www.pesantrenvirtual.com, awal publikasi tgl. 2/11/2004 ).
Pendapat yang penulis ungkapkan di atas tersebut, sesuai dengan statement Albert Schweitzer, dalam bukunya yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Arab (Falsafah al-Hadhoroh, h. 5-6), bahwa pembentukan budaya manusia harus didasari dengan pendidikan akhlak.
Dan memang, di tengah runtuhnya akhlak bangsa kita ini. Seiring dengan memuncaknya gejolak hedonisme ini, pondok pesantren yang selama ini dianggap sebagai markas religius(Islam), dalam kafabilitasnya sebagai ‘’agen’’ akhlakulkarimah, jelas harus eksis dan survive mengajarkan dan menuntun para santri(masyarakat) untuk secara perlahan menerapkan akhlakulkarimah dalam hidup dan kehidupan, baik horisontal maupun vertikal dalam berbagai segi dan sendinya. Sesuai sabda Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh Imam Malik: “Aku diutus hanya untuk menyempurnakan akhlak”(Musnad al-Imam Ahmad, vol, 1, h, 381).
Hal itu, sesuai kondisi awal hadirnya pesantren, ketika itu bangsa Indonesia dalam kondisi hewani atau Jahiliah(sebelum datangnya Islam), dan pesantren (dengan agama Islam) hadir untuk mengusung manusia ke arah yang bermoral atau manusiawi.

Termasuk ketika para elite pesantren “menyelewengkan” institusi pesantren untuk “dimanfaatkan sebagai alat” di dalam gelanggang politik, komunitas pesantren harus tetap menjadikan akhlakulkarimah sebagai salah satu “senjata peperangan” di dalam gelanggang yang semestinya “harus” demokratis itu, demi untuk menjaga identitas pesantren, dan menanamkan “benih demokrasi” yang berawal dari kebersihan.
Meski pun dewasa ini, pendidikan akhlak itu, oleh sebagian golongan kadang hanya dianggap sebuah “konservatisme” demi untuk mengkultuskan sang kiyai, katanya. Misalnya saja, karya syeikh Ibrohim bin Ismail, sebuah syarah dari kitab Ta’lim al-Muta’allim; thoriq at-ta’alum karya syeikh al-Zarnujy , atau Akhlaq al-Banin (ibtida’iyyah) karya Umar Bin Ahmad Baradja, dan pelajaran-pelajaran akhlak lainya, yang masih eksis diajarkan di berbagai pesantren, utamanya pesantren tradisional.
Namun, asumsi sebagian orang tersebut, oleh kalangan elite pesantren biasa dianggap hanya sebagai faktor ---yang mungkin— bisa menunjang terhadap arus perdebatan Islam yang semakin gencar sekarang-sekarang ini. Dan hal itu, sama sekali tidak bisa “menggoyang” terhadap eksistensi pendidikan akhlak yang masih dan harus dominan dilaksanakan oleh masing-masing pesantren. Karena dengan tertanamnya akhlakulkarimah itu, akan turut melancarkan peredaran ilmiah, di antaranya anak manusia akan mengetahui ‘’di mana’’ posisinya dalam siklus ilmiah, sebagai guru, atau murid, atau pendengar, dan atau hanya berposisi sebagai pecinta saja !! ?. Dan berbagai fungsi lainya.
Dan memang, dalam konteks pendidikan, pesantren tidak hanya sebagai lembaga pendidikan, tetapi sekaligus mendidik (akhlak). Yang mana akhlakulkarimah itu, sekarang ini dalam liberalisasi atau sekularisasi dunia akademisi semakin terpuruk, utamanya “iklim pergaulan” antara laki-laki dan perempuan, dan yang paling memprihatinkan adalah di luar kampus(tempat-tempat kost), dalam komunitas akademisi perguruan tinggi Islam sekali pun.
Alasan mereka singkat saja: “Kita ingin jadi Muslim moderat”. Meskipun di antara mereka banyak kedapatan yang “tidak jelas” landasan hukum yang dipegang, dan juga dalam ketidak tauan terhadap pegangan hukum, dan kurang siapnya untuk melakukan kewajiban agama itu. Ironinsnya, mereka banyak yang mengatakan: “kita ini manusia biasa, bukan Nabi yang ma’shum(terjaga dari maksiat)”. Sungguh menggelikan sekaligus memprihatinkan, bukan ! ? .
Memang benar hal tersebut. Tapi persoalannya, kenapa kita tidak berfikir dan mengatakan : ‘’Mari kita sama-sama untuk terus berusaha meningkatkan ketakwaan kita, dengan cara yang menunjangnya, misalnya menjauhi tempat-tempat yang dikenal sangat jauh dari akhlak terpuji, dan berpotensi dengan akhlak tercaci(kemaksiatan), seperti tempat kost yang umumnya dan dikenal sebagai tempat yang rusak dan kotor itu. Karena dalam hukum Aqli(hukum logika), berada di tengah kobaran api, kita akan terbakar, di tengah lautan akan tenggelam’’. Bukankah berfikir demikian itu, kita lebih ilmiah ?.
Ironinya lagi, telah terjadi “pemelesetan agama” dalam budaya bahasa, sehingga sering terlontar dari mereka, agama adalah fanatisme belaka. Tetapi, mereka tidak pernah menyadari bahwa dirinya berada dalam fanatisme kesalahannya.
Sungguh menggelikan, selama ini, kalimat fanatik hanya sering dilontarkan kepada agama. Padahal, aspek etimologi, kalimat fanatik bisa diterapkan dan dirangkai dengan berbagai kalimat lainnya. Misalnya fanatik dengan kesalahan, fanatik dengan seni, fanatik dengan berdagang, dan lain-lainnya. Inilah, kiranya salah satu bukti penyelewengan budaya bahasa dewasa ini, utamanya dalam komunitas muda. Dan mungkin juga diakibatkan karena kurang memahaminya terhadap ilmu bahasa. Sekali lagi, “Sungguh menggelikan dan memprihatinkan, bukan ?”. Agama dianggap fanatisme, tetapi kesalahan didewa-kannya !!!.
Fenomena dan argumentasi di atas tersebut, lagi populer di kalangan “terpelajar”, baik pelajar umum utamanya pelajar perguruan tinggi agama Islam saat ini yang syok berwawasan ilmiah. Dan dari situ, dapat disimpulkan, betapa para pelajar Indonesia saat ini, ingin membuat argumentasi berdasar agama, tetapi miskin nuqtoh(nilai) ilmiah. ‘’Mungkin inilah, ‘hasil’ dari ‘madzhab Ulil Abshor Abdulloh(demikian eja’an Arabnya) cs’, atau yang biasa ditulis Ulil Absar Abdalah, yang di tengah-tengah semakin terpuruknya bangsa Indonesia dalam amaliah agama(akhlakulkarimah), Ia ’memproklamasikan group lawak’ bernama JIL(Jaringan Islam Liberal), yang katanya madzhab masa depan itu’’. Meskipun, sampai sekarang belum jelas, ada yang mengikuti atau tidak, kecuali sedikit orang yang punya kepentingan(pribadi) yang sama dengannya ?.



Terlepas dari ’’group lawak atau banyolan’’ Ulil cs. Tapi, harus diakui, gejala semacam itu, kini telah menjangkit dan merayap di berbagai lingkungan pesantren, yang umumnya diberi label pesantren modern, atau pesantren terpadu, yang lagi marak sekarang-sekarang ini. Banyak terdapat pesantren, yang digagas oleh orang-orang “tidak kenal” dengan pesantren, kondisi di dalamnya antara santri putra-santri putri, tidak beda dengan SLTP/SMU di luar pesantren, yang siswa-siswinya siang malam terbiasa dengan “iklim pergaulan” kost-kostan itu, ditambah lagi santri putra-putri, tinggal dalam satu lingkup asrama. ”Sekedar untuk diketahui, di sini penulis tidak memposisikan diri sebagai komunitas tradisionalis atau modernis, tetapi memaparkan di antara profil pondok pesantren yang ada sekarang ini”.



Maka, dapat diambil kepahaman, bahwa betapalah fenomena kehancuran akhlak itu, terus mengalir dan menyerang masuk ke berbagai “saluran, ruangan, atau rongga-rongga, dan sel-sel” komunitas terpelajar. Kiranya, diakibatkan oleh satu hal, yaitu “pemelesetan dan penyelewengan” dari eksistensi globalisasi dan demokrasi.



***

Fungsi Rekonstruksi Akhlak

Kita telah lama menanggung dukacita dan atau derita, dengan terjadinya berbagai "ganjalan", dalam berbagai sektor atau bidang hidup dan kehidupan. Mulai ekonomi, pendidikan, politik dan lainnya, baik individual, golongan, bahkan sampai tatanan berbangsa dan bernegara. Yang diakibatkan oleh, mulai kriminalitas para gepeng di pasar, preman di terminal maupun kriminalitas para pembantu rakyat(pejabat) dari level RT/RW sampai tingkat republik. Dapat diyakini, itu semua merupakan di antara bukti dari ambruknya akhlakulkarimah, atau merosotnya moralitas bangsa Indonesia dari posisi "akar bumi" sampai "atap langit".
Hal tersebut, sesuai pandangan Imam Abu al-Hasan al-Mawardi dalam kitabnya (Adab ad-dunya wa-addin, h. 115), dengan tegas berpendapat, bahwa dekadensi akhlak merupakan hal paling cepat untuk menghancurkan seluruh bumi dan sendi-sendinya. Pendapat tersebut cukup logis dan realistis, karena dengan ambruknya akhlak, maka lahirlah korupsi, pencurian, dan berbagai kriminalitas atau penyelewengan lainnya yang merugikan bangsa dan negara, baik tatanan bermasyarakat maupun pemerintahan.
Karenanya, sangatlah tepat Dr. Gustave Le Bon dalam konteks pendidikan, dalam bukunya yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Arab (Ruh at-Tarbiyah, h. 337). Ia berpendapat, bahwa pendidikan akhlak adalah bagian dari permasalahan-permasalah utama yang tidak bisa disepelekan.
Sebab, penulis berpendapat, dengan kemuliaan akhlak, suatu bangsa akan menjadi terhormat, sebaliknya citra suatu bangsa akan ambruk dengan sendirinya bila rusak akhlaknya. Karena, menurut Dr. Gustave Lebon dalam buku lainnya yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Arab (as-sunan an-Nafsiah Li tathowwur al-Umam. h.,172). Bahwa kehancuran suatu bangsa adalah akibat dari rusaknya akhlak bangsa itu sendiri.
Sehingga, menurut Umar ibnu Ahmad Baroja, dalam bukunya (ibtida’iyyah: al-Akhlaq lilbanin; littulabi al-madaris al-Islamiyah bi Indunisia, vol, 1 h, 4), bahwa untuk melekatkan akhlakulkhasanah(akhlak baik) pada pribadi manusia, maka semenjak dini pendidikan akhlak sangat penting, dan harus ditanamkan pada setiap anak-anak manusia, agar ia tumbuh-berkembang bersama akhlak yang terpuji, karena pada setiap pribadi manusia terdapat potensi akhlak terpuji (akhlakulkarimah) dan akhlak tercaci(akhlakussayyi’ah).
Jadi, untuk membangun suatu bangsa, memang terdapat banyak aspek yang perlu dilakukan, di antaranya meningkatkan pendidikan, menghidupkan gerak ekononmi, kedewasaan berpolitik dan lain sebagainya. Namun, yang paling esensial adalah reorientasi moral, baik komunitas tua, utamanya tunas-tunas bangsa, sebagai generasi yang jelas sangat dibutuhkan untuk menentukan maju-mundurnya suatu bangsa, dan sekarang akhlaknya sudah sangat "tercemar atau terkena volusi" itu.
Hal tersebut di atas, sesuai hasil penelitian sejarahwan terkenal Edward Gippon terhadap runtuhnya emperium Romania, dalam bukunya yang diterjemahkan ke dalam bahasa Arab (Ambarathur ar-Rumaniah wa Suqhutuha, Vol,1, h. 230-259). Ia berpendapat, faktor utama yang menyebabkan hancurnya Romania, adalah karena pada waktu itu manusia-manusianya telah sangat jauh dari nilai-nilai moral, di antaranya mereka terlena dengan kemewahan yang berlebih-lebihan, dan para pemimpinnya terjebak dengan pertikaian dalam memperebutkan jabatan dengan mengakses energi machiavellianisme atau politik menghalalkan segala cara, serta berbagai sikap-sikap dan tindakan amoral lainnya.
Fenomena tersebut, kini sangat kentara melanda bangsa kita. Ditambah lagi, kita mengalami estafeta musibah bencana alam yang terus menghunjam tanah air kita, kiranya hal itu, sebagai bukti adanya warning dari Sang Maha Kuasa, kepada makhluknya(bangsa kita khususnya), yang tak jua kunjung insaf atau bertaubat. Sebagaimana yang banyak ditegaskan oleh ayat-ayat al-Quran, dan sunnah Rasulullah SAW(tidak untuk dibahas di sini).
Kiranya hal-hal tersebut, cukup sebagai bukti harus adanya ‘’rekonstruksi moral individual’’, baik dalam konteks etika sosial sesama manusia(horisontal), maupun vertikal(kepada sang pencipta). Mulai ‘’atap langit’’ sampai ‘’akar bumi’’ warga negara Indonesia. Utamanya yang mengenakan seragam(pejabat) sebagai tanda bahwa Ia terkait pengabdian dengan masyarakat, namun selalu menghianati dan menyusahkan rakyat yang menitipkan amanat padanya. Sehingga, akibat ‘’prestasi mereka’’, bangsa kita mendapat honoris causa sebagai negara yang mendapat ‘’rangking’’ kedua terkorup di dunia ini.

****
Penutup

TERLEPAS dari corak tradisionalisme, atau modernisme, atau sekularisme, atau liberalisme dan seterusnya. Tetapi sebagai cermin tentang maju-mundurnya totalitas pesantren, dengan adanya akhlakulkarimah sebagai proyek (garapan utama) sekaligus identitas pesantren itu. Dan karena pesantren punya faktor penunjang untuk memudahkan ‘menggarap’ hal tersebut(akhlak), sebagaimana telah dibahas di atas tadi.

Di sini muncul pertanyaan penting untuk langsung dijawab oleh kalangan pesantren, sebagai tolok-ukur atau barometer dari keberhasilan-kemerosotan pendidikan(akhlak) yang merupakan bagian dari dakwah itu, "masih eksis dan sudah maksimalkah, pendidikan dan amaliah akhlakulkarimah di setiap pondok pesantren, dan berbagai komunitas yang punya 'hubungan darah' dengan pesantren ? ".

Bila pertanyaan ini tidak bisa segera dijawab dengan bukti, maka akan mendapat resiko nyata, secara perlahan dengan sendirinya pondok pesantren akan bergeser ke poros yang kurang menguntungkan, atau minimalnya kehilangan ‘’identitasnya’’ sebagai pesantren, dan(dalam konteks pendidikan) berubah menjadi sekolah berasrama.

Juga, tentu kredibilitas dan kafabilitas pesantren akan “pias” dengan sendirinya, serta pondok pesantren tidak lagi akan bisa ikut berperan dalam membangun bangsa, dengan cara mengusung generasi yang berakhlak “sehat” , bila di dalam pesantren akhlakulkarimah yang merupakan modal utama untuk membangun bangsa itu, telah “menipis”.

* Penulis, adalah alumni pondok pesantren lirboyo Kediri; Generasi Pesantren Kedungwungu Krangkeng Indramayu dan mahasiswa universitas al-Qurawiyien Marocco
Read more...
separador

Yang Sesat dan Yang Ngamuk

Oleh: KH. Mustofa Bisri

Karena melihat sepotong, tidak sejak awal, saya mengira massa yang ditayangkan TV itu adalah orang-orang yang sedang kesurupan masal. Soalnya, mereka seperti kalap. Ternyata, menurut istri saya yang menonton tayangan berita sejak awal, mereka itu adalah orang-orang yang ngamuk terhadap kelompok Ahmadiyah yang dinyatakan sesat oleh MUI.

Saya sendiri tidak mengerti kenapa orang -yang dinyatakan- sesat harus diamuk seperti itu? Ibaratnya, ada orang Semarang bertujuan ke Jakarta, tapi ternyata tersesat ke Surabaya, masak kita -yang tahu bahwa orang itu sesat- menempelenginya. Aneh dan lucu.
Konon orang-orang yang ngamuk itu adalah orang-orang Indonesia yang beragama Islam. Artinya, orang-orang yang berketuhanan Allah Yang Mahaesa dan berkemanusiaan adil dan beradab. Kita lihat imam-imam mereka yang beragitasi dengan garang di layar kaca itu kebanyakan mengenakan busana Kanjeng Nabi Muhammad SAW. Kalau benar mereka orang-orang Islam pengikut Nabi Muhammad SAW, mengapa mereka tampil begitu sangar, mirip preman? Seolah-olah mereka tidak mengenal pemimpin agung mereka, Rasulullah SAW.

Kalau massa yang hanya makmum, itu masih bisa dimengerti. Mereka hanyalah mengikuti telunjuk imam-imam mereka. Tapi, masak imam-imam -yang mengaku pembela Islam itu- tidak mengerti misi dan ciri Islam yang rahmatan lil ’aalamiin, tidak hanya rahmatan lithaaifah makhshuushah (golongan sendiri). Masak mereka tidak tahu bahwa pemimpin agung Islam, Rasulullah SAW, adalah pemimpin yang akhlaknya paling mulia dan diutus Allah untuk menyempurnakan akhlak manusia.

Masak mereka tidak pernah membaca, misalnya ayat "Ya ayyuhalladziina aamanuu kuunuu qawwamiina lillah syuhadaa-a bilqisthi…al-aayah" (Q. 5: 8). Artinya, wahai orang-orang yang beriman jadilah kamu penegak-penegak kebenaran karena Allah dan saksi-saksi yang adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu kepada suatu kaum menyeret kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah; adil itu lebih dekat kepada takwa. Takwalah kepada Allah. Sungguh Allah Maha Mengetahui apa yang kau kerjakan.

Apakah mereka tidak pernah membaca kelembutan dan kelapangdadaan Nabi Muhammad SAW atau membaca firman Allah kepada beliau, "Fabimaa rahmatin minaLlahi linta lahum walau kunta fazhzhan ghaliizhal qalbi lanfaddhuu min haulika… al-aayah" (Q. 3: 159). Artinya, maka disebabkan rahmat dari Allah-lah engkau berperangai lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau kasar dan berhati kejam, niscaya mereka akan lari menjauhimu…"

Tak Mengerti

Sungguh saya tidak mengerti jalan pikiran atau apa yang merasuki pikiran mereka sehingga mereka tidak mampu bersikap tawaduk penuh pengayoman seperti dicontoh-ajarkan Rasulullah SAW di saat menang. Atau, sekadar membayangkan bagaimana seandainya mereka yang merupakan pihak minoritas (kalah) dan kelompok yang mereka hujat berlebihan itu mayoritas (menang).

Sebagai kelompok mayoritas, mereka tampak sekali -seperti kata orang Jawa- tidak tepa salira. Apakah mereka mengira bahwa Allah senang dengan orang-orang yang tidak tepo saliro, tidak menenggang rasa? Yang jelas Allah, menurut Rasul-Nya, tidak akan merahmati mereka yang tidak berbelas kasihan kepada orang.

Saya heran mengapa ada -atau malah tidak sedikit- orang yang sudah dianggap atau menganggap diri pemimpin bahkan pembela Islam, tapi berperilaku kasar dan pemarah. Tidak mencontoh kearifan dan kelembutan Sang Rasul, pembawa Islam itu sendiri. Mereka malah mencontoh dan menyugesti kebencian terhadap mereka yang dianggap sesat.

Apakah mereka ingin meniadakan ayat dakwah? Ataukah, mereka memahami dakwah sebagai hanya ajakan kepada mereka yang tidak sesat saja? Atau? Kelihatannya kok tidak mungkin kalau mereka sengaja berniat membantu menciptakan citra Islam sebagai agama yang kejam dan ganas seperti yang diinginkan orang-orang bodoh di luar sana. Tapi…
Read more...
separador

Selasa, 01 Maret 2011

Yang Paling Mempesona Imannya

Malam sudah sampai ditengah-tengah, suara jalanan pun telah lengang. Dan kantuk itu tidak datang seperti biasanya. Ada yang menderu dalam relung dada. Ada yang bergemuruh. Sebuah kitab yang masih terbuka di pangkuan, penyebabnya. Kitab yang saya maksudkan agar mendatangkan lelap lebih mudah, ternyata malah berkebalikan. Biasanya belum sampai 2 halaman, mata ini pasti sudah rapat-rapat menutup begitu pula dengan kitabnya.

Lembar demi lembar saya telusuri samudera aksara bermakna, tak lelah mata membaca, fikiran mencerna dan seringnya hati gundah gulana. Saya ingin membaginya dengan kalian. Mudah -mudahan saya mampu.

***

Madinah Al-Munawarah, pada dini hari. Membran malam perlahan tersingkap, berganti dengan subuh syahdu. Lengang sunyi dengan udara dingin menggigit. Dan deru sahara hanya terdengar dari jauh. Cemerlang fajar sebentar lagi nampak. Shalat subuh hampir tiba, Rasulullah Saw dan para sahabat menyemut pada satu tempat, masjid. Semua hendak bertemu dengan yang di cinta, Allah. Namun sayang, air untuk berwudhu tidak setetes pun tersedia. Tempat mengambil air seperti biasanya kini kerontang.

Dan para sahabat pun terdiam, bahkan ada beberapa yang menyesali kenapa tidak mencari air terlebih dahulu untuk keperluan kekasih Allah itu berwudhu.Rasululllah pun bertanya kepada para sahabat "Adakah diantara kalian membawa kantung untuk menyimpan air?".

Berebut para sahabat mengangsurkan kantung air yang dimilikinya. Lalu, Nabi yang begitu mereka cintai itu meletakkan tangannya diatasnya. Tidak seberapa lama, jemari manusia pilihan itu memancarkan air yang bening. "Hai Bilal, panggil mereka untuk berwudhu" sabda nabi kepada Bilal.

Dan para sahabat pun tak sabar merengkuh aliran air dari jemari sang Nabi. Di basuhnya semua anggota wudhu, ada banyak gumpalan keharuan dan pesona yang menyeruak. Bahkan Ibnu mas'ud mereguk air tersebut sepenuh cinta.

Shalat subuh pun berlangsung sendu, suara nabi mengalun begitu merdu. Ada banyak telinga yang terbuai, hati yang mendesis menahan rindu. Selesai memimpin shalat, nabi duduk menghadap para sahabat. Semua mata memandang pada satu titik yang sama, Purnama Madinah. Dan di sana, duduk sesosok cinta bersiap memberikan hikmah, seperti biasanya.

"Wahai manusia, Aku ingin bertanya, siapakah yang paling mempesona imannya?" Al-Musthafa memulai majelisnya dengan pertanyaan.

"Malaikat ya Rasul Allah" hampir semua menjawab.

Dan nabi memandang lekat wajah para sahabat satu persatu. Janggut para sahabat masih terlihat basah. "Bagaimana mungkin malaikat tidak beriman sedangkan mereka adalah pelaksana perintah Allah."

"Para Nabi, ya Rasul Allah" jawab sahabat serentak.

"Dan bagaimana para Nabi tidak beriman, jika wahyu dari langit langsung turun untuk mereka".

"Kalau begitu, sahabat-sahabat engkau, wahai Rasulullah" pada saat menjawab ini banyak dari sahabat yang mengucapkannya malu-malu.

"Tentu saja para sahabat beriman kepada Allah, karena mereka menyaksikan apa yang mereka saksikan".

Selanjutnya, setelah para sahabat tidak mampu menjawabnya, sejenak mesjid menjadi hening. Semua bersiap dengan lanjutan sabda nabi yang mulia. Semua menunggu, sama seperti sebelumnya pesona sosok mulia yang duduk ditengah-tengah mereka mampu menarik semua pandangan laksana magnet yang berkekuatan maha dahsyat.

Dan suara kekasih Allah itu kembali terdengar. "Yang paling mempesona imannya adalah kaum yang datang jauh sesudah kalian. Mereka beriman kepadaku, meski tak pernah satu jeda mereka memandang aku. Mereka membenarkan ku sama seperti kalian, padahal tak sedetikpun mereka pernah melihat sosok ini. Mereka hanya menemukan tulisan, dan mereka tanpa ragu mengimaninya dengan mengamalkan perintah dalam tulisan itu. Mereka membelaku sama seperti kalian gigih berjuang demi aku. Mereka mencintaiku sebagaimana kalian, meskipun sama sekali mereka tidak pernah menjumpaiku Alangkah inginnya aku berjumpa dengan para ikhwanku itu".

Semua terpekur mendengar sabda tersebut. Kepada mereka nabi memanggil sapaan sahabat, sedang kepada kaum yang akan datang, nabi merinduinya dengan sebutan “ikhwan” atau "saudaraku". Alangkah bahagia bisa dirindui nabi sedemikian indah, benak para sahabat terliputi hal ini.

Dan terakhir nabi, mengumandangkan QS Al Baqarah ayat 3: "Mereka yang beriman kepada yang ghaib, mendirikan shalat, dan menginfakkan sebagian dari apa yang kami berikan kepada mereka".

***

Sahabat...
Memang, tiada yang lebih indah, dari pada dirindui beliau seperti demikian. Tiada yang lebih indah, dari pada mendapat sebutan “ikhwan” atau "saudara" beliau. Tiada yang lebih indah, dari pada menjadi orang yang berpredikat “yang paling mempesona imannya”.

Dan memang kita kaum yang datang jauh sesudah para sahabat beliau. Namun, sudahkah kita beriman kepada beliau, meski tak pernah satu jeda kita memandang beliau? Sudahkah kita membenarkan beliau sama seperti para sahabat beliau, padahal tak sedetikpun kita pernah melihat sosok beliau?

Sahabat...
Memang kita hanya menemukan tulisan, dan mungkin kita tanpa ragu mengimaninya. Namun, sudahkah kita sepenuhnya mengamalkan perintah dalam tulisan itu? Sudahkah kita gigih berjuang demi beliau sebagaimana para sahabat beliau?? Wallahu a’lam.


Selanjutnya seorang ulama’ menghimbau, “Cintailah Rasululullah, maka ia akan menjadi pusat perhatian. Kapan saja ia diperbincangkan maka kita akan selalu semangat menyimak. Cintailah Rasulullah maka kita akan meniru perilakunya dengan hasil baik. Dan yang lebih dahsyat lagi, cintailah Rasulullah maka beliau akan menganggap kita sebagai saudara (ikhwan) dan janji Allah dalam QS. Annisa: 69, seorang pencinta Rasul akan digabungkan dengan orang-orang yang memperoleh nikmat Allah yaitu Para nabi, para shidiqin, para syahid dan orang-orang shaleh.”

***

Tak ada salahnya, pabila saat ini kita mengenang sosok yang hanya saya tahu ciri-cirinya dari sebuah buku. Mengapakah terlalu sering kita mengabaikan teladan sempurna ini. Bahkan, terlalu jauh kita terlontar dari sunnahnya. Padahal, engkau ya Rasul Allah, begitu memperhatikan kami, hingga kami disebut pada saat-saat terakhir kehidupanmu. Ketika maut menjemput, nafas satu-satu dan detik-detik penghabisan di dunia sebelum dengan anggun engkau dipanggil Allah.

Maafkan kami, ya nabi pilihan Allah, sirahmu kami baca tetapi kami hanya mengemasnya dengan rapi dalam memori sebagai sebuah kisah yang nantinya akan kami sampaikan kepada yang lain. Engkau merindukan umat yang berjuang untuk membelamu, padahal kami sama sekali tidak berbuat apapun. Engkau rindui sosok-sosok yang mencintaimu dengan segenap jiwa, dan kami tidak tahu apa bukti kecintaan yang telah kami persembahkan meski hanya sekuntum saja. Betapa malunya kami wahai Rasulallah.

Meski demikian, perkenankan kami menyampaikan salam, salam cinta dan salam kerinduan. Salam bagimu ya Rasul Allah, salam bagimu duhai kekasih Allah yang mulia. Inilah kami, kaum yang lemah dari sekian abad dari masamu yang terbentang, menyampaikan salam pekat kerinduan. Inilah kami, kaum yang dungu, meski dengan tubuh penuh dengan karat dosa, dengan mata yang seringkali tak terarah, dengan mulut yang kerap menghina dan berdusta, dengan telinga yang sering tuli terhadap kepedihan sesama, memberanikan diri menyapamu dalam kesendirian.

Mengenang engkau ya Rasul Allah, menetaskan dahaga hebat bagi kerontangnya jiwa ini untuk berjumpa denganmu. Mengingatimu tentang betapa rekatnya engkau mencintai para pengikut yang datang jauh setelah engkau tiada, mengkristalkan haru yang tiada tara. Betapapun besar rasa malu ini, terimalah salam, wahai pembawa cahaya kepada dunia.

Betapapun buruk rupa jiwa ini, betapapun kerdil pikiran ini,
Betapapun kelu lidah ini berucap, ingin kami sampaikan kepadamu wahai nabi al-musthafa:
“Shallaallaahu ala sayyidina muhammad, shallalhu alaihi wasallam...
Salam bagimu ya Rasul Allah”.

***

Sahabat, telah sering kita mengucapkan shalawat terhadap junjungan nabi mulia, bahkan mungkin disetiap jeda yang kita punya, salam untuk sang tercinta tak lupa kita ungkap. Namun apakah salam yang kita sampaikan benar-benar salam yang ikhlas, salam tanda cinta kita, ataukah salam yang refleks keluar dari mulut kita tanpa ada makna? Wallahu 'A'lam.
Read more...
separador

Ya Allah...

(Semua yang ada di langit dan di bumi selalu meminta pada-NYA.
Setiap waktu Dia dalam kesibukan.) ( QS.Ar-Rahman: 29)

Ketika laut bergemuruh, ombak menggunung, dan angin bertiup kencang menerjang, semua penumpang kapal akan panik dan menyeru, " Ya Allah!"

Ketika seseorang tersesat di tengah gurun pasir; kendaraan menyimpang jauh dari jalurnya; dan para kafilah bingung menentukan arah perjalanannya, mereka akan menyeru, " Ya Allah ! "

Ketika musibah menimpa, bencana melanda, dan tragedi terjadi, mereka yang tertimpa akan selalu berseru, " Ya Allah!"

Ketika pintu-pintu permintaan telah tertutup, dan tabir-tabir permohonan digeraikan, orang-orang mendesah, " Ya Allah !"

Ketika semua cara tak mampu menyelesaikan, setiap jalan terasa menyempit, harapan terputus, dan semua jalan pintas membuntu, mereka pun menyeru , " Ya Allah!"

Ketika bumi terasa menyempit dikarenakan himpitan persoalan hidup dan jiwa serasa seolah tertekan oleh beban berat kehidupan yang harus Anda pikul, menyerulah, " Ya Allah! "
(Kenapa hanya pada saat-saat didera kesusahan dan kesedihan kita mengingat-Nya? Apakah kita ingin terus hidup dalam kesusahan dan kesedihan agar kita senantiasa mengingat-Nya?)

Ya Allah, gantikanlah kepedihan ini dengan kesenangan, jadikan kesedihan itu awal kebahagian, dan sirnakan rasa takut ini menjadi rasa tentram. Ya Allah, dinginkan panasnya kalbu dengan salju keyakinan, dan padamkan bara jiwa dengan air keimanan.

Wahai Rabb, tunjukanlah pandangan yang kebingungan ini kepada cahaya-MU, bimbinglah sesatnya perjalanan ini ke arah jalan-MU merapat ke hidayah-MU...

Ya Allah, sirnakan keraguan terhadap fajar yang pasti datang dan memancar terang, dan hancurkan perasaan yang jahat dengan secercah sinar kebenaran. Hempaskan semua tipu daya setan dengan bantuan bala tentara-MU...

Ya Allah, sirnakan dari kami rasa sedih dan duka, dan usirlah kegundahan dari jiwa kami semua...

Kami berlindung kepada-MU dari setiap rasa takut yang mendera, hanya kepada-MU kami bersandar dan bertawakal, hanya kepada-MU kami memohon, dan hanya dari-MU lah semua pertolongan. Cukuplah Engkau sebagai Pelindung kami, karena Engkaulah
sebaik-baik Pelindung dan Penolong.
Read more...
separador

Wahai saudari Muslimah, ini bukanlah hijab...!

Salah seorang saudara perempuanku (masih termasuk mahramku) datang mengunjungiku, ia datang dengan wajah ceria dan berseri-seri. Ia mengucapkan salam kepadaku, setelah itu ia menodongku dengan sebuah pertanyaan:"apakah engkau tidak mengucapkan selamat kepadaku?". Aku berkata :"atas dasar apa, aku mengucapkan selamat kepadamu..?", ia berkata:"apakah engkau tidak melihat, kalau sekarang aku telah mengenakan hijab ..!!

Akupun kemudian menoleh kearahnya, dan aku tidaklah mendapatkan sesuatu yang berubah pada dirinya dan pakaiannya. Ya Allah tidaklah ada perubahan yang aku lihat, kecuali hanya sebuah selendang (penutup kecil) yang ia taruh di atas kepalanya. Aku kemudian berguman dalam hati:"lalu yang ia maksudkan hijab itu apa.?, tidaklah aku melihat, kecuali hanya kerudung tembus pandang".

Lalu dengan lemah lembut aku berkata kepadanya:"akan tetapi wahai saudariku, ini bukanlah hijab". Setelah mendengar ucapanku yang seperti itu, lalu ia memandang kepadaku dengan pandangan melotot dan muka yang merah padam. Aku sebelumnya juga sudah merasa kalau akan seperti ini jadinya, karena sudah kepalang tangung, lalu aku tunjukanlah ia akan pengertian tentang hijab yang sebenarnya.

Aku berkata kepadanya:"jangan marah dong..!!!. Coba dengarkan pertanyaanku, untuk apa sih hijab itu? Perempuan adalah makhluk yang cantik/indah. Allah telah menciptakannya dalam sebaik-baik ciptaan. Pada laki-laki terdapat semacam bentuk kecendrungan (fitroh) untuk suka> kepadanya, dia itu adalah rayuan (sahwat) yang sangat kuat buat laki-laki, sebagaimana firman Allah SWT :
"dijadikan indah dalam pandangan manusia kecintaaan kepada wanita-wanita, anak-anak dan harta yang banyak, yang terdiri dari emas, perak, kuda tunggangan, kesenangan dan sawah ladang. Yang demikian itulah kesenangan dunia dan disisi Allahlah sebaik-baik tempat kembali". (QS Ali Imron:41).

Dan demikian juga Allah menjadikan fitroh bagi perempuan untuk suka/condong kepada laki-laki, akan tetapi yang membedakan nya adalah, laki-laki itu lebih agresif terhadap wanita, berusaha untuk mendapatkannya dan berhayal (mengidam-idamkan) akannya..!!

Allah SWT lalu menjaga kecondongan fitri makhluknya ini dengan jalan menyalurkan nya dalam salah satu wadah syar`ie, yaitu nikah. Perlu juga diketahui bahwa segala sesuatu yang terdapat pada diri wanita memiliki daya tarik/pesona sendiri bagi laki-laki, karena itulah Allah SWT menutup semua pintu-pintu yang akan menjerumuskan seorang laki-laki dalam lubang fitnah wanita.

Allah SWT lalu menyuruh kaum adam (lk2) untuk menundukan pandangan mereka terhadapnya dan melarang untuk berdua-duaan dengannya. Allah juga memerintahkn kepada nya (pr) sebagaimana yang diperintahkan kepada laki-laki, akan tetapi Dia (Allah) mengkhususkan untuknya agar mengenakan hijab, yaitu untuk menjaga badan/fisik mereka dari pandangan laki-laki dan mensucikan dirinya dari fitnah, begitu juga hal nya dengan laki-laki hal itu (menahan pandangan) akan menolong mereka dalam beribadah kepada Allah. Hijab hukumnya adalah wajib, yang mana ia itu berfungsi untuk menutupi setiap tempat yang disitu tampak keindahan/kemolekan tubuh wanita.

Apakah penjelasan dari saya itu jelas..?, ia berkata:"Ya, jelas!!". Saya kemudian berkata:"jika seorang perempuan datang/lewat dengan penampilan yang tidak syar`ie kemudian ia menampakan fitnahnya atau sebagian darinya, lalu semua mata tertuju kepada nya, maka hilanglah pada saat itu hikmah hijab. Bahkan lebih dari itu, Islam telah mengharamkan kepada perempuan menampakan perhiasan mereka yang tersembunyi. Seperti membunyikan gelang kaki (sebagaimana yang sering dilakukan oleh perempuan2 musyrik di zaman jahiliyah), memakai wangi2an dan yang lainnya. Kalau kita melihat kepada hijab kamu (yang kamu yakini), apakah criteria-criteria yang kita sebutkan sudah terpenuhi.?

Ia berkata:"akan tetapi akukan menutup seluruh badanku dan tidak ada yang terlihat pada diriku, kecuali wajah dan telapak tanganku !!!! Saya berkata:"pada hijab itu ada syarat-syarat yang harus dipenuhi sebagaimana yang disebutkan oleh para ulama.

Alangkah baiknya kalau engkau mengetahuinya/mempelajarinya.!!
Syarat-syarat hijab
1. Menutupi selurah badan (kecuali yang dibolehkan)
2. Tidaklah menjadikannya perhiasan bagi dirinya
3. Hendaklah ukuran nya itu longgar dan tidak sempit
4. Hendaklah pakaiannya itu tidak tembus pandang
5. Tidaklah menggunakan harum-haruman/farfum
6. Tidaklah menyerupai pakaian laki-laki
7. Hendaknya tidak menyerupai pakain orang-orang Kafir
8. Agar tidak mengunakan pakaian yang mengundang syahwat.

Setiap syarat dari semua syarat-syarat ini ada dalilnya dalam qur`an dan sunnah, jikalau salah satu dari syarat ini di tanggalkan maka tanggalah semua syarat yang lain. Maka, jika sekarang kita melihat kepada hijab yang engkau kenakan, berapa syaratkah yang sudah engkau penuhi..? . Satu syarat saja kan?

Yaitu menutupi badan kecuali wajah dan telapak tangan, sedangkan syarat yang lain belumlah engkau penuhi. Sekarang engkau mengenakan celana, yang mana lekak-lekuk tubuhmu kelihatan secara gambling, sedangkan disisi lain ia juga menyerupai pakaian laki-laki dan wanita-wanita kafir.

Engkau memakai kaos/kemeja sempit yang memperlihatkan apa-apa yang terdapat disekitar dadamu disamping parfum yang sekarang engkau kenakan, yang bau nya memenuhi seantero ruangan ini. Maka demi Allah, apakah yang seperti ini yang dikatakann hijab?

Apakah keberadaan kamu sekarang ini membikin fitnah buat kami..?, akan tetapi, Demi Allah .!!!! Engkau malah menambah fitnah saja! Coba dengarkan hadits ini, dari Usamah bin Zaid ia berkata:"aku diberi pakaian qibtiah yang besar oleh rasulillah SAW, yang mana beliau dihadiahi oleh Diyah Al-Kalbi, lalu aku memberikannya kepada istriku. Rasulullah SAW berkata:
"kenapa engkau tidak mengenakannya..? aku berkata:"aku telah memberikannya kepada istriku". Ia berkata:
" perintahkanlah kepadanya untuk menambahi (memperpanjang kain) bagian bawahnya (terlampau naik), karena aku khawatir kakinya akan kelihatan." (HR Ahmad dan yang lainnya dengan sanad yang hasan sebagaimana yang terdapat dalam kitab "hijab mar`ah" karya syekh Nasiruddin Al-Bani) Nabi SAW khawatir kalau-kalau kaki perempuan kelihatan, maka bagaimana dengan perempuan kita sekarang ini? Ia kemudian diam dan menundukkan wajahnya ketanah, kemudian aku meneruskan perkataanku.

BERHIJAB ITU HUKUMNYA WAJIB

Allah SWT telah memerintahkan kepadamu untuk mengenakannya, sebagaimana firmannya:
"wahai nabi, sampaikanlah kepada istri2 mu, anak2 perempuanmu dan istri2 orang mu`min, hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya keseluruh tubuh mereka".(QS Al-Ahzab:59).
Allah berfirman:
"dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya". (QS An Nur:31).
Maka tidaklah ada jalan untuk menolak, berdalih dan menghindar, akan tetapi wajib bagi kamu untuk mengaplikasikan perintah Allah itu dalam bentuk perbuatan.
Allah SWT berfirman...:"dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mu`min dan begitu pula wanita yang mu`minah, apabila Allah telah menetapkan suatu keputusan/ketetapan, akan ada bagi mereka (pilihan yang lain) tentang urusan mereka. Dan barang siapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, maka sungguh ia telah sesat. Sesat yang nyata". (QS Al-Ahzab:36)

Dalam sejarah Islam tidaklah pernah kita temui seorang dari ulama (ahlul ilmi) mengatakan bahwa hijab itu hukumnya bukanlah wajib bagi wanita.dan bagi mereka ada pilihan tentang urusan itu. Akan tetapi mereka semuanya telah sepakat (jumhur), bahwa hijab itu wajib bagi perempuan, hanya sanya disana ada sedikit khilaf tentang boleh atau tidaknya menampakan wajah dan telapak tangan.

Maka janganlah perkataan orang hebat (para dosen, doctor, dll) di zaman kita ini melenakan kamu, atau sinyalemen yang mengatakan, sesungguhnya ia telah membaca kitab Allah baris perbaris dan tidaklah ia menemukan didalamnya itu perintah untuk berhijab. Ia berkata:"akan tetapi, kalau seseorang langsung begitu saja memakai hijab, apakah itu namanya tidak tergesa-gesa. Kan harus ada keserasian dulu dengan akal biar terasa kepuasan dalam memakainya..? Saya berkata:"ini adalah syubuhat Syaitaniyah yang engelayuti para wanita tanpa hijab sekarang ini. Apakah kamu akan mencocokan dulu ayat Al-Quran dan sunnah Rasulullah SAW dengan akal dan hawamu? Apakah akal manusia (makhluk) akan dijadikan sebagai ganjalan dari segala perintah Allah dan larangan-Nya..(kalau kita mengkiaskan kepada seorang pembantu yang mendapat perintah dari juragannya untuk melakukan suata pekerjaan, kemudian dia berkata kepada tuannya:"aku tidak akan mengerjakan pekerjaan ini, kecuali kalau sudah sesuai dengan akalku! Apakah pembantu yang seperti ini dikatakan pembantu yang sholeh, malah sebaliknya dia bukanlah pembantu yang sholeh akan tetapi pembantu yang kurang baik dan layak di pecat dari jabatannya). Kalau kita membolehkan akal untuk berbuat seperti itu, maka bisa-bisa kita akan menolak syariah secara keseluruhan, kecuali apa-apa yang sesuai dengan akal dan hawa kita saja. Kita tidak mau mengerjakan sholat dan puasa kecuali kalau sudah merasakan kecocokan dengan akal kita dan puas dengannya. Ia berkata:"akan tetapi hijab itu berbeda dengan sholat dan puasa..? Saya berkata:"tidak ada pertentangan diantaranya, yang memerintahkan puasa dan sholat itu adalah yang mewajibkan hijab juga, yaitu Allah SWT. Sedangkan perintah itu wajib untuk dikerjakan langsung ketika ia sampai kepada kita.

Coba kita sama-sama menenggok kepada apa yang dilakukan> oleh para shohabiyat generasi awal. Dari Aisyah ra, ia berkata:"semoga Allah merahmati wanita-wanita muhajirat generasi awal, ketika Allah SWT menurunkan ayat: "dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya".
Lalu mereka dengan senang hati langsung mengerjakan perintah itu dengan menutup dada mereka dengan kain yang ada pada mereka (HR Bukhori/4758). Mereka tidaklah menunda sampai bisa membeli atau memperolehnya, akan tetapi mereka langsung mengerjakannya. Ketahuilah bahwasanya kesalahan terbesar yang awal mula dilakukan iblis semoga Allah melaknatnya, adalah karena ia mengunakan akal yang pendek didepan nash yang sudah jelas. Allah SWT mengandengkan antara larangan tabarruj dengan perintah mendirikan sholat dan menunaikan zakat serta ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya dalam satu ayat, sebagaimana yang tersebut dalam firmannya: "dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliyah yang dahulu". (QS Al-Ahzab:33).

Dalam ayat itu larangan tabaruuj lebih didahulukan dari kewajiban menegakan sholat. Bahkan dengan ketaatan kamu menjaga sholat secara otomatis akan menyeru kamu untuk berhijab, sebagaimana firman Allah SWT :
"sesungguhnya sholat itu dapat mencegah dari perbuatan keji dan mungkar " (QS Al Angkabut:45)
, sedangkan tabarruj itu adalah suatu kemungkaran besar. Ketahuilah bahwa kondisi kamu sekarang ini nggak jauh beda dengan orang-orang bani Israil yang Allah telah mencela mereka didalam qur`annya:
"apakah kamu akan beriman kepada sebagian Al-Kitab (Taurat) dan ingkar kepada sebagian yang lain ? . tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian dari padamu, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari kiamat mereka di kembalikan kepada siksa yang sangat pedih/berat. Allah tidak lengah dari apa yang kamu perbuat" (QS Al-Baqoroh: 85)
. Ia berkata:"apakah kamu marah kepada saya, karena banyak perkataan kita yang berlainan dari awal kita bicara..?

Saya berkata:"maaf kalau boleh saya beralasan, luka ini terlalu sakit dan dalam. Ia berkata:"oh..ya, aku banyak melihat wanita2 mutabarrijat (tidak berhijab), akan tetapi mereka itu malah baik2dann sopan. Saya berkata:"saya tidak mengingkari kenyataan seperti itu, akan tetapi kebaikan hati (bathin) seseorang biasanya akan diikuti oleh baiknya penampilan luarnya, bahkan kebaikan yang ia tunjukan dan ketaatannya terhadap perintah robnya merupakan bukti kuat yang menunjukan baik nya hati.

Dari kesempurnaan iman seorang hamba itu adalah penerimaan nya secara menyeluruh dengan jiwa dan raganya terhadap syariat robnya. Tidaklah ia memilih sesuatu dan meninggalkan sesuatu yang lain. Allah SWT telah memerintahkan kita dalam firmannya:
"wahai orang-orang yang beriman masuklah kamu kedalam Islam secara kaffah". (QS. Al-Baqoroh:208)
yang mana tafsirannya (kaffah). Syare`at islam itu telah memerintahkan kepada kita untuk menegakan hukum2 di Dunia berdasarkan zhohirnya sedangkan yang bathin kita serahkan sepenuhnya kepada Allah, karena hanya dialah yang lebih tahu akan nya. Maka hijab itu sendiri malah akan menambah keagunggan penampilan mu secara zhohir disamping juga akan menambah keagunggan secara bathin. Dan dia (Allah) telah memerintahkan kamu, dan kamu juga telah ada perjanjian dengan rasulullah SAW. Ia berkata:"apasih maksudnya, dengan perjanjian antara rasulullah dengan saya..? Saya berkata:"bahwasanya nabi SAW, ketika membaiat para wanita untuk memenuhi syara2 nya diantaranya meninggalkan tabarruj. Maka, tatkala Amimah binti Roqiqoh datang kepada rasulullah untuk membaiatnya atas islam, ia (rasulullah) berkata:"aku membaiat kamu untuk tidak berbuat syirik kepada Allah, tidak mencuri, berzina, membunuh anak2, membuat-buat kebohongan dengan dua tangan dan kaki, meratap orang yang sudah mati, dan melakukan tabarruj sebagaimana yang dilakukan oleh wanita2 jahiliyah yang awal. (HR Ahmad)

Hijab kamu telah menyebarkan/membawa aroma yang baik dalam masyarakat yang penuh dengan maksiat dan membantu para ikhwan2 kamu untuk menjaga keagungan (harga diri) mereka. ketahuilah bahwasanya awal mula kerusakan yang terjadi pada masyarakat, adalah fitnah wanita, sebagaimana yang disebutkan oleh rasulullah SAW. Ia berkata:"akan tetapi permasalahannya tidak sebagaimana yang kita sangka.

Tabarruj sekarang ini sudah menjadi pemandangan yang biasa didalam masyarakat islam dan tidak lagi menarik pandangan. Saya berkata: pertama:"bahwasanya menyebarnya kemaksiatan dan mendapat legitimasi, bukan berarti itu akan menyebabkan berpindahnya sebuah hokum dari halal ke haram. Suatu contoh: kalau sekiranya khomer itu di jual di semua tempat sampai dipinggir jalan sekalipun, apakah akan berarti hal itu akan menyebabkan ia menjadi halal? Maksiat itu tetap maksiat, walaupun semua manusia mengerjakan semuanya. Kedua: siapa yang mengatakan bahwa tabarruj itu tidak menarik pandangan perhatian..? itu kan pendapat kamu hai sekalian perempuan. Mana ada laki2 yang sependapat dengan kamu. Perempuan tetaplah perempuan, sedangkan dorongan syahwat nya laki2 itu tidaklah akan berubah, karena dia itu adalah fitroh yang Allah telah karuniakan kepadanya. Keberadaan perempuan didalam masyarakat modern dewasa ini adalah sebagai gambaran kongkrit yang akan benarnya akan benarnya apa yang kita bicarakan. Barang siapa yang menyangka bahwa ia tidaklah dilirik oleh laki2 didepan matanya, maka dia itu akan melihat kamu dari belakang dan menjadikan kamu sebagai topik pembicaraan diantara mereka. Dan syetan dengan segala upaya berusaha untuk menjadikan >wanita itu cantik dalam pandangan laki2 walaupun ia itu tidaklah cantik, sebagaimana yang disabdakan oleh rasulullah SAW:"perempuan itu adalah aurat, maka, apabila ia keluar (dari rumah) syetan akan menghiasinya". (Shohih Jami`:6690).

Dan jikalau tabarruj itu suatu hal yang biasa (lumrah) niscaya tidaklah Allah akan melarangnya, karena dialah yang mengetahui perihal hambanya baik laki2 maupun perempuan dan juga mengetahui mana yang baik dan yang buruk untuk mereka. Ia berkata:"lalu apa yang haru aku lakukan..? Saya berkata:"bersegeralah wahai saudaraku menuju Allah. Allah SWT berfirman:
"dan bersegeralah kamu menuju ampunan dari tuhanmu". (QS Ali Imron:133)
. Dengan menyatakan diri bertaubat kepadanya dengan sebenar-benar taubat, karena taubat nya perempuan itu dasar dan tiang bangunannya itu adalah hijab. Janganlah kamu terpedaya dengan banyak maksiat yang terdapat disekeliling kamu dan janganlah kamu condong kepadanya karena kebiasaan dan lemah. Allah SWT berfirman:"dan jika engkau mentaati kebanyakan orang yang ada di bumi niscaya mereka akan menyesatkan kamu dari jalan Allah". (Al An`am:116). Maka aku ingin melihat engkau pada kesempatan yang akan datang insya Allah sudah bisa mengamalkannya serta memenuhi criteria2 dan syarat2 yang tadi telah kita bincangkan sedangkan aku memerintahkan kamu untuk berbuat seperti itu semata-mata hanyalah karena Allah dan Rasulnya.

Ia berkata:"aku akan berusaha merubahnya dan hanya Allah lah tempat dimintai pertolongan. Saya berkata:"jujurlah kamu karena Allah nisya Allah akan menjadikan kamu orang yang jujur. Wallahu a`lam

Dialog singkat ini dinukil dari Majalah Tauhid, Mesir Edisi Sya`ban Yang mana judul aslinya adalah "YA UKHTAAH LAISA HADZA BIHIJAB", yang ditulis oleh Ust. Mutawalli Al-Barazilli yang di terjemahkan oleh buletin bulanan ar-robithoh cairo mesir Ya ukhtaah : semacam bentuk pangilan keprihatinan!!! (yaitu, keprihatinan akan kenyataan yang ada, yang menimpa para jilbaber/hijaber)
Read more...
separador

Wahai sang Istri ....

Apakah akan membahayakan dirimu, kalau anda menemui suamimu dengan wajah yang berseri, dihiasi senyum yang manis di saat dia masuk rumah.?

Apakah memberatkanmu, apabila anda menghapus debu dari wajahnya, kepala, dan baju serta mengecup pipinya.?!!

Apakah anda akan merasa sulit, jika anda menunggu sejenak di saat dia memasuki rumah, dan tetap berdiri sampai dia duduk.!!!

Mungkin tidak akan menyulitkanmu, jika anda berkata kepada suami : "Alhamdulillah atas keselamatan Kanda, kami sangat rindu kedatanganmu, selamat datang kekasihku".

Berdandanlah untuk suamimu -harapkanlah pahala dari Allah di waktu anda berdandan itu, karena Allah itu Indah dan mencintai keindahan- pakailah parfum, dan bermake up-lah, serta pakailah busana yang paling indah untuk menyambut suamimu.

Jauhi dan jauhilah bermuka asam dan cemberut.

Janganlah anda mendengar dan menghiraukan perusak dan pengacau yang akan merusak dan mengacaukan keharmonisanmu dengan suami.

Janganlah selalu tampak sedih dan gelisah, akan tetapi berlindunglah kepada Allah dari rasa gelisah, sedih, malas dan lemah.

Janganlah berbicara terhadap laki-laki lain dengan lemah-lambut, sehingga menyebabkan orang yang di hatinya ada penyakit mendekatimu dan mengira hal-hal yang jelek terhadap dirimu.

Selalulah berada dalam keadaan lapang dada, hati tentram, dan ingat kepada Allah setiap saat.

Ringankanlah suamimu dari setiap keletihan, kepedihan dan musibah serta kesedihan yang menimpanya.

Suruhlah suamimu untuk berbakti kepada ibu bapaknya.

Didiklah anak-anakmu dengan baik. Isilah rumah dengan tasbih, tahlil, tahmid, dan takbir, perbanyaklah membaca Al-Quran terutama surat Al-Baqarah, karena surat itu dapat mengusir syeitan.

Hilangkanlah dari rumahmu foto-foto, alat-alat musik dan alat-alat yang bisa merusak agama.

Bangunkanlah suamimu untuk melaksanakan shalat malam, doronglah dia untuk melakukan puasa sunat, ingatkan dia akan keutamaan bersedekah, dan jangan anda menghalanginya untuk menjalin hubungan siraturrahim dengan karib kerabatnya.

Perbanyaklah beristighfar untuk dirimu, suamimu, serta kedua orang tua dan seluruh kaum muslimin. Berdoalah kepada Allah, agar dianugerahkan keturunan yang baik, niat yang baik serta kebaikan dunia dan akhirat. Ketahuilah sesungguhnya Rabbmu Maha Mendengar doa dan mencintai orang yang nyinyir dalam meminta. Allah berfirman:"Dan Rabbmu berkata : serulah Aku niscaya Aku penuhi doamu"
Read more...
separador

Dongeng Nabi Sulaiman

Syahdan, tersebutlah konon Nabi Sulaiman AS ingin berangin-angin dalam tamannya. Tatkala beliau baru saja akan melangkahkan kakinya di ambang pintu, beliau tertegun sejenak. Di atas bubungan tangga istana terdengar olehnya dua ekor burung sedang bersilat kata. Dua ekor burung, burung besar (BB) dan burung kecil (BK). Inilah silat kata yang sempat terdengar oleh Nabi Sulaiman AS di ambang pintu.

BB: Kasihan badanmu sekecil itu.
BK: Kecil-kecil cabai rawit, biar kecil sangat pedasnya.
BB: Hei, burung bukan cabai.
BK: Perlihatkan kekuatanmu, rubuhkan istana Nabi Sulaiman ini dengan sekali tendang.
BB: Apa?
BK: Rubuhkan dengan sekali tendang.
BB: Mana mungkin burung dapat merubuhkan istana.
BK: Saya dapat.
BB: Apa?

Belum sempat BB menyuruh BK membuktikan kata-katanya, Nabi Sulaiman AS melangkah keluar memperlihatkan dirinya, kemudian beliau memanggil kedua burung itu. Ternyata burung besar pengecut, ia terbang menjauh. Burung kecil datang dan hinggap di bahu Nabi Sulaiman AS.

NS: Betulkah engkau dapat merubuhkan istana beta?
BK: Mana mungkin tuanku, patik cuma menggertak saja. BB itu tidak memandang sebelah mata kepada patik.
NS: Tidak terpikir olehmu BB memintamu membuktikan kata-katamu?
BK: Patik sangat maklum, tuanku ada di bawah dan akan menolong patik hingga BB tidak berkesempatan menyuruh patik membuktikan kata-kata patik.

Nabi Sulaiman AS tersenyum, mengelus-elus kepala BK, kemudian beliau menyuruhnya pergi terbang. BB memperhatikan dari jauh. Setelah BK hinggap di ranting pada pohon tempat BB bertengger, BB datang mendekat.

BB: Apa yang kau percakapkan dengan Nabi Sulaiman?
BK: Oh, beliau mengelus-elus kepalaku membujuk, meminta dengan sangat agar aku tidak merobohkan istananya sekali tendang.

Arkian, Nabi Sulaiman AS meneruskan langkah menuju pohon rindang, lalu duduk pada bangku. Tangannya menggenggam sekepal gandum untuk burung dara. Sebutir gandum jatuh dari tangannya. Beliau sempat memperhatikan sebutir gandum itu bergerak. Seekor semut (Sm) menyeret sebutir gandum itu menuju sarangnya.

NS: Hai semut, dengan gandum segenggam ini berapa lama engkau habiskan?
Sm: Daulat tuanku, dengan segenggam gandum dikepal tuanku, patik dapat hidup selama setahun, jika dipanjangkan Allah umur patik.
NS: Mari kita bersepakat. Engkau tidak perlu bersusah payah selama setahun mancari makan. Tetapi beta ingin meyakinkan betulkah segenggam gandum ini dapat menjadi bekalmu selama setahun. Masuklah ke sarangmu, beta tutup dari luar.
Sm: Daulat tuanku, patik sepakat.

Hatta, setelah selang setahun berlangsung kesepakatan itu, maka Nabi Sulaiman AS datang ke sarang semut itu lalu membukanya. Ternyata semut masih hidup, masih ada gandum yang tersisa.

NS: Hai semut, beta lihat masih ada gandum tersisa tidak kau habiskan.
Sm: Daulat tuanku, memang benar, masih ada patik sisakan separuhnya.
NS: Jadi apa yang kau katakan kepada beta setahun lalu tidak benar!
Sm: Daulat tuanku, walaupun tuanku seorang Nabi, tuanku bukanlah Allah. Hanya Allah Yang Maha Sempurna, tidak pernah lupa. Jika tuanku lupa datang membuka sarang patik selang setahun, sedangkan patik tidak berhemat menyimpan setengah gandum pemberian tuanku, maka matilah patik kelaparan.
NS: Andaikan beta lupa membuka sarangmu selang setahun lagi, apa dayamu?
Sm: Akan patik berhemat dengan hanya makan separuhnya dari yang sisa ini.
NS: Andaikan beta lupa setahun lagi?
Sm: Patik akan makan habis, dan sekiranya selang setahun tuanku masih lupa membuka sarang patik, maka itulah takdir patik mati kelaparan. Namun patik tidak berputus asa, patik berdoa kepada Allah mudah-mudahan tahun terakhir itu Allah mengingatkan tuanku untuk datang membuka sarang patik.

Itulah salah satu dari beberapa cerita-cerita yang yang dikisahkan nenek saya menjelang tidur semasa kecil yang masih sempat saya rekam dalam ingatan saya. Barulah kelak kemudian hari saya tahu bahwa itu adalah cerita-cerita Israiliyat. Walaupun itu hanya cerita-cerita Israiliyat, akhirnya saya menyadari bahwa cerita-cerita Israiliyat, dan dongeng-dongeng pada umumnya tampaknya komunikatif bagi pendidikan anak-anak. Mereka anak-anak kecil itu dapat menangkap muatan nilai dalam cerita-cerita itu.

Sehabis nenek bercerita seperti cerita di atas misalnya, maka saya membayangkan diri saya seperti Nabi Sulaiman AS yang menyayangi binatang, memperhatikan binatang sampai kepada binatang yang sekecil semutpun. Saya membayangkan diri seperti burung kecil itu, tidak merasa rendah diri kepada yang lebih besar, tidak merasa takut namun penuh hormat kepada orang besar. Membayangkan diri seperti semut itu, bagaimana cara berhemat, tegar tidak berputus asa. Bersikap hormat dalam bertutur-sapa, tetapi berani menggurui Nabi Sulaiman AS, bahawa walaupun beliau itu seorang Nabi, tetapi bukanlah dan tidak boleh disamakan dengan Allah, tidak boleh mempertuhankan seorang Nabi. Sehingga kelak kemudian hari terasa gampang menghayati dan mendalami penjelasan guru mengaji saya tentang makna: Walam Yakun Lahu Kufuwan Ahadun (S.Al Ikhla-sh, 4). Dan tidak ada suatupun yang seperti Dia (112:4). Cerita-cerita Israiliyat itu yang pada mulanya hanya untuk anak-anak, kemudian diperluas sebagai cerita-cerita penglipur lara, bahkan diperluas lebih lanjut untuk konsumsi bagi para ibu di majelis-majelis ta'lim.
Read more...
separador

Sejarah Pengumpulan Qur'an

Kita bisa membagi sejarah pengumpulan Al-Qur'an menjadi tiga periode:

a. Pengumpulan dalam Arti Penulisannya pada Masa Nabi

Rasullullah telah mengangkat para penulis wahyu Qur'an dari sahabat-sahabat terkemuka, seperti Ali, Muawiyah, 'Ubai bin K'ab dan Zaid bin Sabit, bila ayat turun ia memerintahkan mereka menulisnya dan menunjukkan tempat ayat tersebut dalam surah, sehingga penulisan pada lembar itu membantu penghafalan di dalam hati. Disamping itu sebagian sahabatpun menuliskan Qur'an yang turun itu atas kemauan mereka sendiri, tanpa diperintah oleh nabi; mereka menuliskannya pada pelepah kurma, lempengan batu, daun lontar, kulit atau daun kayu, pelana, potongan tulang belulang binatang. Zaid bin Sabit, "Kami menyusun Qur'an dihadapan Rasulullah pada kulit binatang."

Jibril membacakan Qur'an kepada Rasulullah pada malam-malam bulan Ramadan setiap tahunnya. Abdullah bin Abbas berkata, "Rasulullah adalah orang paling pemurah, dan puncak kemurahan pada bulan Ramadan, ketika ia ditemui oleh Jibril. Ia ditemui oleh Jibril setiap malam; Jibril membacakan Qur'an kepadanya, dan ketika Rasulullah ditemui oleh Jibril itu ia sangat pemurah sekali. Para sahabat senantiasa menyodorkan Qur'an kepada Rasulullah baik dalam bentuk hafalan maupun tulisan."

Tulisan-tulisan Qur'an pada masa Nabi tidak terkumpul dalam satu mushaf; yang ada pada seseorang belum tentu dimiliki orang lain. Para ulama telah menyampaikan bahwa segolongan dari mereka, di antaranya Ali bin Abi Thalib, Muaz bin Jabal, Ubai bin Ka'ab, Zaid bin Sabit dan Abdullah bin Mas'ud telah menghafalkan seluruh isi Qur'an di masa Rasulullah. Dan mereka menyebutkan pula bahwa Zaid bin Sabit adalah orang yang terakhir kali membacakan Qur'an di hadapan Nabi, diantara mereka yang disebutkan di atas.

Rasulullah berpulang ke rahmatullah di saat Qur'an telah dihafal dan tertulis dalam mushaf dengan susunan seperti disebutkan diatas; ayat-ayat dan surah-surah dipisah-pisahkan, atau diterbitkan ayat-ayatnya saja dan setiap surah berada dalam satu lembar secara terpisah dalam tujuh huruf. Tetapi Qur'an belum dikumpulkan dalam satu mushaf yang menyeluruh (lengkap). Bila wahyu turun, segeralah dihafal oleh para qurra dan ditulis para penulis; tetapi pada saat itu belum diperlukan membukukannya dalam satu mushaf, sebab Nabi masih selalu menanti turunnya wahyu dari waktu ke waktu.

Disamping itu terkadang pula terdapat ayat yang menasikh (menghapuskan) sesuatu yang turun sebelumnya. Susunan atau tertib penulisan Qur'an itu tidak menurut tertib nuzulnya, tetapi setiap ayat yang turun dituliskan ditempat penulisan sesuai dengan petunjuk Nabi- ia menjelaskan bahwa ayat anu harus diletakkan dalam surah anu. Andaikata (pada masa Nabi) Qur'an itu seluruhnya dikumpulkan di antara dua sampul dalam satu mushaf, hal yang demikian tentu akan membawa perubahan bila wahyu turun lagi. Az-Zarkasyi berkata, "Qur'an tidak dituliskan dalam satu mushaf pada zaman Nabi agar ia tidak berubah pada setiap waktu. Oleh sebab itu, penulisannya dilakukan kemudian sesudah Qur'an turun semua, yaitu dengan wafatnya Rasulullah."

Dengan pengertian inilah ditafsirkan apa yang diriwayatkan dari Zaid bin Sabit yang mengatakan, "Rasulullah telah wafat sedang Qur'an belum dikumpulkan sama sekali." Maksudnya ayat-ayat dalam surah-surahnya belum dikumpulkan secara tertib dalam satu mushaf. Al-Katabi berkata, "Rasulullah tidak mengumpulkan Qur'an dalam satu mushaf itu karena ia senantiasa menunggu ayat nasikh terhadap sebagian hukum-hukum atau bacaannya. Sesudah berakhir masa turunnya dengan wafatnya Rasululah, maka Allah mengilhamkan penulisan mushaf secara lengkap kepada para Khulafaurrasyidin sesuai dengan janjinya yang benar kepada umat ini tentang jaminan pemeliharaannya. Dan hal ini terjadi pertama kalinya pada masa Abu Bakar atas pertimbangan usulan Umar."

Pengumpulan Qur'an dimasa Nabi ini dinamakan: a) penghafalan, dan b) pembukuan yang pertama.

b. Pengumpulan Qur'an pada Masa Abu Bakar

Abu Bakar menjalankan urusan islam sesudah Rasulullah. Ia dihadapkan kepada peristiwa-peristiwa besar berkenaan dengan kemurtadan sebagian orang Arab. Karena itu ia segera menyiapkan pasukan dan mengirimkannya untuk memerangi orang-orang yang murtad itu. Peperangan Yamamah yang terjadi pada tahun 12 H melibatkan sejumlah besar sahabat yang hafal Qur'an. Dalam peperangan ini tujuh puluh qari dari para sahabat gugur. Umar bin Khatab merasa sangat kuatir melihat kenyataan ini, lalu ia menghadap Abu Bakar dan mengajukan usul kepadanya agar mengumpulkan dan membukukan Qur'an karena dikhawatirkan akan musnah, sebab peperangan Yamamah telah banyak membunuh para qarri'.

Abu Bakar menolak usulan itu dan berkeberatan melakukan apa yang tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah. Tetapi Umar tetap membujuknya, sehingga Allah membukakan hati Abu Bakar untuk menerima usulan Umar tersebut, kemudian Abu Bakar nenerintahkan Zaid bin Sabit, mengingat kedudukannya dalam qiraat, penulisan pemahaman dan kecerdasannya, serta kehadirannya pada pembacaan yang terakhir kali. Abu Bakar menceritakan kepadanya kekhawatiran dan usulan Umar.

Pada mulanya Zaid menolak seperti halnya Abu Bakar sebelum itu. Keduanya lalu bertukar pendapat, sampai akhirnya Zaid dapat menerima dengan lapang dada perintah penulisan Qur'an itu. Zaid bin Sabit melalui tugasnya yang berat ini dengan bersadar pada hafalan yang ada dalam hati para qurra dan catatan yang ada pada para penulis. Kemudian lembaran-lembaran (kumpulan) itu disimpan ditangan Abu Bakar. Setelah ia wafat pada tahun 13 H, lembaran-lembaran itu berpindah ke tangan Umar dan tetap berada ditangannya hingga ia wafat. Kemudian mushaf itu berpindah ketangan Hafsah putri Umar. Pada permulaan kekalifahan Usman, Usman memintanya dari tangan Hafsah.

c. Pengumpulan ini dinamakan pengumpulan kedua. Pengumpulan Qur'an pada masa Usman.

Penyebaran Islam bertambah dan para qurra pun tersebar di berbagai wilayah, dan penduduk disetiap wilayah itu mempelajari qira'at (bacaan) dari qari yang dikirim kepada mereka. Cara-cara pembacaan (qiraat) Qur'an yang mereka bawakan berbeda-beda sejalan dengan perbedaan 'huruf ' yang dengannya Qur'an diturunkan. Apa bila mereka berkumpul disuatu pertemuan atau disuatu medan peperangan, sebagian mereka merasa heran dengan adanya perbedaan qiraat ini. Terkadang sebagian mereka merasa puas, karena mengetahui bahwa perbedaan-perbedaan itu semuanya disandarkan kepada Rasulullah. Tetapi keadaan demikian bukan berarti tidak akan menyusupkan keraguan kepada generasi baru yang tidak melihat Rasulullah sehingga terjadi pembicaraan bacaan mana yang baku dan mana yang lebih baku. Dan pada gilirannya akan menimbulkan saling bertentangan bila terus tersiar. Bahkan akan menimbulkan permusuhan dan perbuatan dosa. Fitnah yang demikian ini harus segera diselesaikan.

Ketika terjadi perang Armenia dan Azarbaijan dengan penduduk Iraq, diantara orang yang ikut menyerbu kedua tempat itu ialah Huzaifah bin al-Yaman. Ia banyak melihat perbedaan dalam cara-cara membaca Qyr'an. Sebagian bacaan itu bercampur dengan kesalahan; tetapi masing-masing mempertahankan dan berpegang pada bacaannya, serta menentang setiap orang yang menyalahi bacaannya dan bahkan mereka saling mengkafirkan. Melihat kenyataan demikian Huzaifah segara menghadap Usman dan melaporkan kepadanya apa yang telah dilihatnya.

Usman juga memberitahukan kepada Huzaifah bahwa sebagian perbedaan itu pun akan terjadi pada orang-orang yang mengajarkan Qiraat pada anak-anak. Anak-anak itu akan tumbuh, sedang diantara mereka terdapat perbedaan dalam qiraat. Para sahabat amat memprihatinkan kenyataan ini karena takut kalau-kalau perbedaan itu akan menimbulkan penyimpangan dan perubahan. Mereka bersepakat untuk menyalin lembaran-lembaran yang pertama yang ada pada Abu Bakar dan menyatukan umat islam pada lembaran-lembaran itu dengan bacaan tetap pada satu huruf.

Usman kemudian mengirimkan utusan kepada Hafsah (untuk meminjamkan mushaf Abu Bakar yang ada padanya) dan Hafsah pun mengirimkan lembaran-lembaran itu kepadanya. Kemudian Usman memanggil Zaid bin Sabit al-Ansari, Abdullah bin Zubair, Said bin 'As, dan Abdurrahman bin Haris bin Hisyam. Ketiga orang terkahir ini adalah orang Quraisy, lalu memerintahkan mereka agar menyalin dan memperbanyak mushaf, serta memerintahkan pula agar apa yang diperselisihkan Zaid dengan ketiga orang quraisy itu ditulis dalam bahasa Quraisy, karena Qur'an turun dengan logat mereka.

Dari Anas, bahwa Huzaifah bin al-Yaman datang kepada Usman, ia pernah ikut berperang melawan penduduk Syam bagian Armenia dan Azarbaijan bersama dengan penduduk Iraq. Huzaifah amat terkejut dengan perbedaan mereka dalam bacaan, lalu ia berkata kepada Usman, "Selamatkanlah umat ini sebelum mereka terlibat dalam perselisihan (dalam masalah kitab) sebagaimana perselisihan orang-orang yahudi dan nasrani." Usman kemudian mengirim surat kepada Hafsah yang isinya, "Sudilah kiranya anda kirimkan lembaran-lembaran yang berisi Qur'an itu, kami akan menyalinnya menjadi beberapa mushaf, setelah itu kami akan mengembalikannya." Hafsah mengirimkannya kepada Usman, dan Usman memerintahkan Zaid bin Sabit, Abdullah bin Zubair, Sa'ad bin 'As dan Abdurrahman bin Haris bin Hisyam untuk menyalinnya.

Mereka pun menyalinnya menjadi beberapa mushaf. Usman berkata kepada ketiga orang Quraisy itu, "Bila kamu berselisih pendapat dengan Zaid bin Sabit tentang sesuatu dari Qur'an, maka tulislah dengan logat Quraisy karena qur'an diturunkan dengan bahasa Quraisy."

Mereka melakukan perintah itu. Setelah mereka selesai menyalinnya menjadi beberapa mushaf, Usman mengembalikan lembaran-lembaran asli itu kepada Hafsah. Kemudian Usman mengirimkan kesetiap wilayah mushaf baru tersebut dan memerintahkan agar semua Qur'an atau mushaf lainnya dibakar. Zaid berkata, "Ketika kami menyalin mushaf, saya teringat akan satu ayat dari surah al-Ahzab yang pernah aku dengar dibacakan oleh Rasulullah; maka kami mencarinya, dan aku dapatkan pada Khuzaimah bin Sabit al-Ansari, ayat itu ialah:

'Di antara orang-orang mu'min itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah.' (al-Ahzab: 23)

lalu kami tempatkan ayat ini pada surah tersebut dalam mushaf."

Berbagai atsar atau keterangan para sahabat menunjukkan bahwa perbedaan cara membaca itu tidak saja mengejutkan Huzaifah, tetapi juga mengejutkan para sahabat yang lain. Dikatakan oleh Ibn Jarir: 'Ya'kub bin Ibrahim berkata kepadaku: Ibn 'Ulyah menceritakan kepadaku: Ayyub mengatakan kepadaku: bahwa Abu Qalabah berkata: Pada masa kekahlifahan Usman telah terjadi seorang guru qiraat mengajarkan qiraat seseorang, dan guru qiraat lain mengajarkan qiraat pada orang lain. Dua kelompok anak-anak yang belajar qiraat itu suatu ketika bertemu dan mereka berselisih, dan hal demikian ini menjalar juga kepada guru-guru tersebut.'

Kata A yyub: aku tidak mengetahui kecuali ia berkata: 'sehingga mereka saling mengkafirkan satu sama lain karena perbedaan qiraat itu,' dan hal itu akhirnya sampai pada khalifah Usman. Maka ia berpidato: 'Kalian yang ada di hadapanku telah berselisih paham dan salah dalam membaca Qur'an. Penduduk yang jauh dari kami tentu lebih besar lagi perselisihan dan kesalahannya. Bersatulah wahai sahabat-sahabat Muhammad, tulislah untuk semua orang satu imam (mushaf Qur'an pedoman) saja!'

Abu Qalabah berkata: Anas bin Malik bercerita kepadaku, katanya : 'aku adalah salah seorang di antara mereka yang disuruh menuliskan,' kata Abu Qalanbah: Terkadang mereka berselisih tentang satu ayat, maka mereka menanyakan kepada seseorang yang telah menerimanya dari Rasulullah. Akan tetapi orang tadi mungkin tengah berada di luar kota, sehingga mereka hanya menuliskan apa yang sebelum dan yang sesudah serta membiarkan tempat letaknya, sampai orang itu datang atau dipanggil.

Ketika penulisan mushaf telah selesai, Khalifah Usman menulis surat kepada semua penduduk daerah yang isinya: 'Aku telah melakukan yang demikian dan demikian. Aku telah menghapuskan apa yang ada padaku, maka hapuskanlah apa yang ada padamu.'

Ibn Asytah meriwayatkan melalui Ayyub dari Abu Qalabah, keterangan yang sama. Dan Ibn Hajar menyebutkan dalam al-Fath bahwa Ibn Abu Daud telah meriwayatkannya pula melalui Abu Qalabah dalam al-Masahif.

Suwaid bin Gaflah berkata: 'Ali mengatakan: 'Katakanlah segala yang baik tentang Usman. Demi Allah apa yang telah dilakukannya mengenai mushaf-mushaf Qur'an sudah atas persetujuan kami. Usman berkata : 'Bagaimana pendapatmu tentang qiraat ini? Saya mendapat berita bahwa sebagian mereka mengatakan bahwa qiraatnya lebih baik dari qiraat orang lain. Ini telah mendekati kekafiran. Kami berkata: 'Bagaimana penadapatmu? Ia menjawab: 'Aku berpendapat agar manusia bersatu pada satu mushaf, sehingga tidak terjadi lagi perpecahan dan perselisihan, kami berkata: Baik sekali pendapatmu itu.

Keterangan ini menunjukkan bahwa apa yang dilakukan Usman itu telah disepakati oleh para sahabat. Mushaf-mushaf itu ditulis dengan satu huruf (dialek) dari tujuh huruf Qur'an seperti yang diturunkan agar orang bersatu dalam satu qiraat. Dan Usman telah mengembalikan lembaran-lembaran yang asli kepada Hafsah, lalu dikirimkannya pula pada setiap wilayah yaitu masing-masing satu mushaf. Dan ditahannya satu mushaf untuk di Madinah, yaitu mushafnya sendiri yang dikenal dengan nama "mushaf Imam".

Penamaan mushaf itu sesuai dengan apa yang terdapat dalam riwayat-riwayat dimana ia mengatakan: " Bersatulah wahai umat-umat Muhammad, dan tulislah untuk semua orang satu imam (mushaf Qur'an pedoman)." Kemudian ia memerintahkan untuk membakar mushaf yang selain itu. Umatpun menerima perintah dengan patuh, sedang qiraat dengan enam huruf lainnya ditingalkan. Keputusan ini tidak salah, sebab qiraat dengan tujuh huruf itu tidak wajib. Seandainya Rasulullah mewajibkan qiraat dengan tujuh huruf itu semua, tentu setiap huruf harus disampaikan secara mutawatir sehingga menjadi hujjah. Tetapi mereka tidak melakukannya. Ini menunjukkan bahwa qiraat dengan tujuh huruf itu termasuk dalam katergori keringanan. Dan bahwa yang wajib ialah menyampaikan sebagian dari ketujuh huruf tersebut secara mutawatir dan inilah yang terjadi.

Ibn Jarir mengatakan berkenaan dengan apa yang telah dilakukan oleh Usman: 'Ia menyatukan umat islam dengan satu mushaf dan satu huruf, sedang mushaf yang lain disobek. Ia memerintahkan dengan tegas agar setiap orang yang mempunyai mushaf "berlainan" dengan mushaf yang disepakati itu membakar mushaf tersebut, umatpun mendukungnya dengan taat dan mereka melihat bahwa dengan bagitu Usman telah bertindak sesuai dengan petunjuk dan sangat bijaksana. Maka umat meninggalkan qiraat dengan enam huruf lainnya sesuai dengan permintaan pemimpinnya yang adil itu; sebagai bukti ketaatan umat kepadanya dan karena pertimbangan demi kebaikan mereka dan generasi sesudahnya. Dengan demikian segala qiraat yang lain sudah dimusnahkan dan bekas-bekasnya juga sudah tidak ada.

Sekarang sudah tidak ada jalan bagi orang yang ingin membaca dengan ketujuh huruf itu dan kaum muslimin juga telah menolak qiraat dengan huruf-huruf yang lain tanpa mengingkari kebenarannya atau sebagian dari padanya, tetapi hal itu bagi kebaikan kaum muslimin itu sendiri. Dan sekarang tidak ada lagi qiraat bagi kaum muslimin selain qiraat dengan satu huruf yang telah dipilih olah imam mereka yang bijaksana dan tulus hati itu. Tidak ada lagi qiraat dengan enam huruf lainya.

Apabila sebagian orang lemah pengetahuan berkata: Bagaimana mereka boleh meninggalkan qiraat yang telah dibacakan oleh Rasulullah dan diperintahkan pula membaca dengan cara itu? maka jawabnya ialah: 'Sesungguhnya perintah Rasulullah kepada mereka untuk membacanya itu bukanlah perintah yang menunjukkan wajib dan fardu, tetapi menunjukkan kebolehan dan keringanan (rukshah). Sebab andaikata qiraat dengan tujuh huruf itu diwajibkan kepada mereka, tentulah pengetahuan tentang setiap huruf dari ketujuh huruf itu wajib pula bagi orang yang mempunyai hujjah untuk menyampaikannya, bertanya harus pasti dan keraguan harus dihilangkan dari para qari. Dan karena mereka tidak menyampaikan hal tersebut, maka ini merupakan bukti bahwa dalam masalah qiraat mereka boleh memilih, sesudah adanya orang yang menyampaikan Qur'an di kalangan umat yang penyampaiannya menjadi hujjah bagi sebagian ketujuh huruf itu.

Jika memang demikian halnya maka mereka tidak dipandang telah meninggalkan tugas menyampaikan semua qiraat yang tujuh tersebut, yang menjadi kewajiban bagi mereka untuk menyampaikannya. Kewajiban mereka ialah apa yang sudah mereka kerjakan itu. Karena apa yang telah mereka lakukan tersebut ternyata sangat berguna bagi Islam dan kaum muslimin. Oleh karena itu menjalankan apa yang menjadi kewajiban mereka sendiri lebih utama dari pada melakukan sesuatu yang malah akan lebih merupakan bencana terhadap islam dan pemeluknya dari pada menyelamatkannya."

d. Perbedaan antara Pengumpulan Abu Bakar dengan Usman

Dari teks-teks di atas jelaslah bahwa pengumpulan (mushaf oleh) Abu Bakar berbeda dengan pengumpulam yang dilakukan Usman dalam motif dan caranya. Motif Abu Bakar adalah kekhawatiran beliau akan hilangnya Qur'an karena banyaknya para huffaz yang gugur dalam peperangan yang banyak menelan korban dari para qari. Sedang motif Usman dalam mengumpulkan Qur'an ialah karena banyaknya perbedaan dalam cara-cara membaca Qur'an yang disaksikannnya sendiri di daerah-daerah dan mereka saling menyalahkan antara satu dengan yang lain.

Pengumpulan Qur'an yang dilakukan Abu Bakar ialah memindahkan satu tulisan atau catatan Qur'an yang semula bertebaran di kulit-kulit binatang, tulang, dan pelepah kurma, kemudian dikumpulkan dalam satu mushaf, dengan ayat-ayat dan surah-surahnya yang tersusun serta terbatas dalam satu mushaf, dengan ayat-ayat dan surah-surahnya serta terbatas dengan bacaan yang tidak dimansukh dan tidak mencakup ketujuh huruf sebagaimana ketika Qur'an itu diturunkan.

Sedangkan pengumpulan yang dilakukan Usman adalah menyalinnya menjadi satu huruf diantar ketujuh huruf itu, untuk mempersatukan kaum muslimin dalam satu mushaf dan satu huruf yang mereka baca tanpa keenam huruf lainnya.

Ibnut Tin dan yang lain mengatakan: "Perbedaan antara pengumpulan Abu Bakar dan Usman ialah bahwa pengumpulan yang dilakukan Abu Bakar disebabkan oleh kekawatiran akan hilangnya sebagian Qur'an karena kematian para penghafalnya, sebab ketika itu Qur'an belum terkumpul disatu tempat. Lalu Abu Bakar mengumpulkannya dalam lembaran-lembaran dengan menertibkan ayat-ayat dan surahnya. Sesuatu dengan petunjuk Rasulullah kepada mereka. Sedang pengumpulam Usman sebabnya banyaknya perbedaan dalam hal qiraat, sehingga mereka membacanya menurut logat mereka masing-masing dengan bebas dan ini menyebabkan timbulnya sikap saling menyalahkan, karena kawatir akan timbul bencana, Usman segera memerintahkan menyalin lembaran-lembaran itu dalam satu mushaf dengan menertibkan surah-surahnya dan membatasinya hanya pada bahasa quraisy saja dengan alasan bahwa qur'an diturunkan dengan bahasa mereka (quraisy). Sekalipun pada mulanya memang diizinkan membacanya dengan bahasa selain quraisy guna menghindari kesulitan. Dan menurutnya keperluan demikian ini sudah berakhir, karena itulah ia membatasinya hanya pada satu logat saja."

Al-Haris al-Muhasibi mengatakan: "Yang masyhur di kalangan orang banyak ialah bahwa pengumpul Qur'an itu Usman. Pada hal sebenarnya tidak demikian, Usman hanyalah berusaha menyatukan umat pada satu macam (wajah) qiraat, itupun atas dasar kesepakatan antara dia dengan kaum muhajirin dan anshar yang hadir dihadapannya, serta setelah ada kekhawatiran timbulnya kemelut karena perbedaan yang terjadi karena penduduk Iraq dengan Syam dalam cara qiraat. Sebelum itu mushaf-mushaf itu dibaca dengan berbagai macam qiraat yang didasarkan pada tujuh huruf dengan mana Qur'an diturunkan. Sedang yang lebih dahulu mengumpulkan Qur'an secara keseluruhan (lengkap) adalah Abu Bakar as-Sidiq."

Dengan usahanya itu Usman telah berhasil menghindarkan timbulnya fitnah dan mengikis sumber perselisihan serta menjaga isi Qur'an dari penambahan dan penyimpangan sepanjang zaman.
Read more...
separador

Sejarah Mazhab dan Hukum Bermazhab

Setelah Rasulullah SAW meninggal dunia banyak para sahabat yang berpindah dari satu negeri ke negeri lain, terutama pada masa pemerintahan Bani Umayyah. Di setiap negeri yang mereka diami, mereka mengajarkan apa yang mereka peroleh dari Rasulullah kepada penduduk di mana mereka tinggal.Di antara kota-kota tempat tinggal para sahabat tersebut akhirnya ada yang berkembang menjadi pusat perkembangan ilmu-ilmu keislaman yang di antaranya adalah ilmu fiqh Islam.

Kota-kota tersebut antara lain:

Madinah

Di kota ini berdiam seluruh khulafaurrasyidin dan sejumlah besar ulama sahabat. Di antaranya adalah Abdullah bin Abbas (wafat 68 H), Abdullah bin Umar (wafat 73 H) sebelum keduanya pindah ke Makkah, Zaid Bin Tsabit (wafat 45H), dll. Dari merekalah para ulama tabiin (generasi sesudah sahabat) -seperti Said bin Musayyab, Urwah bin Zubair, Abu Bakar bin Abdurrahman, Sulaiman bin Yasar dll- yang tinggal di madinah menimba ilmu.
Imam Malik adalah seorang ulama Madinah yang hidup setelah generasi tabiin tersebut. Beliau adalah seorang mujtahid dan ulama besar yang diikuti oleh banyak orang, yang kepada beliaulah mazhab Maliki di nisbahkan. Mazhab Maliki ini juga dikenal dengan mazhab ahlul hadis. Sebab mereka lebih banyak mendasarkan ijtihad mereka pada hadis-hadis Nabi yang banyak mereka terima dari para tabiin yang meriwayatkannya dari Rasulullah.

Makkah

Di antara sahabat besar yang tinggal di Makkah adalah Abdullah bin Abbas dan Abdullah bin Umar. Murid-murid beliau dari kalangan tabiin di antaranya adalah Atha' bin Rabah (wafat 114 H), Thawus bin Kaisan (wafat 124 H), Sufyan bin Uyainah (wafat 198 H), Muslim bin Khalid al Jauzi dll. Muslim bin Khalid ini adalah guru Imam Syafii sebelum beliau pergi berguru kepada Imam Malik di Madinah. Sedangkan Sufyan bin Uyainah adalah salah satu guru Imam Ahmad bin Hambal.

Kufah

Di antara sahabat yang terkenal di kota ini adalah Abdullah bin Mash'ud (wafat 32 H) dan Ali bin Abi Thalib (wafat 40 H). Di antara para murid mereka adalah: Alqomah bin Qais Annakha'i (wafat 60 H) dan Qadli Syuraih (wafat 78 H).
Kepada merekalah para fuqaha Kufah seperti Ibrahim Annakha'i, Sufyan Ats-Tsauri, Abdullah bin Syubrumah dan Imam Abu Hanifah belajar ilmu fiqh. Namun hanya Abu Hanifahlah yang kemudian mempunyai pengikut hingga sekarang. Mazhab beliau dikenal dengan mazhab Hanafi atau mazhab ahlu arra'yi. Sebab beliau dalam ijtihadnya banyak menggunakan ra'yu atau qiyas dan mengembangkan madzhabnya yang sampai sekarang banyak dianut oleh kebanyakan bangsa Mesir, Turki dan India. Ulama Kufah terkenal dengan mazhab qiyasnya karena mereka dalam memahami fiqh banyak menggunkakan qiyas.

Hasil-hasil ijtihad dan pendapat Imam Malik, Imam Abu Hanifah, Imam Syafii dan Imam Ahmad bin Hambal tersebut akhirnya dikembangkan dan dibukukan oleh pengikut-pengikutnya. Karenanya pengikut pengikut mereka masih eksis hingga saat ini. Hasil-hasil ijtihad dan pendapat para imam itulah yang kemudian kita kenal dengan mazhab.

Sebenarnya selain mereka (mazhab empat) ada juga mazhab lain tapi sayang mazhab mereka kurang dikenal karena pendapat-pendapatnya tidak dibukukan seperti mazhab yang empat. Akan tetapi kita dapat menemukan pendapat-pendapat mereka dalam kitab-kitab mazhab yang masyhur. Di antara mazhab-mazhab yang kurang dikenal tersebut adalah :
- Mazhab Auza'iyyah yang dinisbahkan kepada Abdurrahman Al Auza'i (wafat 113 H).
- Mazhab Atstsauri yang dinisbahkan kepada Imam Sufyan Atstsauri (wafat 161 H) dll.


HUKUM BERMADZHAB

Pada beberapa tahun yang silam di Jepang, tepatnya di Tokyo diadakan konferensi Islam. Dalam acara itu ada seorang yang menanyakan bagaimana hukumnya bermazhab, apakah wajib bagi seseorang untuk mengikuti salah satu mazhab yang empat. Pada kesempatan itu tampil syaikh Muhammad Sulthan Alma'sumi Al Khajandi, seorang pengajar di masjidil Haram Makkah. Beliau menyerukan kaum muslimin untuk kembali kepada yang pernah dilakukan oleh umat yang terbaik yaitu para sahabat. Beliau menyeru untuk tidak bertaqlid buta (fanatik) pada salah satu mazhab tertentu. Akan tetapi dipersilahkan mengambil dari tiap mujtahid atau ahli ijtihad dengan berdasarkan pada Alqur'an dan sunnah sebagai rujukan. Sebab sebenarnya mazhab-mazhab adalah pendapat dan pemahaman orang-orang berilmu dalam beberapa masalah. Pendapat, ijtihad dan pemahaman ini tidak diwajibkan oleh Allah dan rasul-Nya untuk mengikutinya. Karena di dalamnya terdapat kemungkinan betul dan salah. Karena tidak ada pendapat yang seratus persen benar kecuali yang berasal dari Rasulullah SAW.

Sementara itu mengikuti salah satu mazhab yang empat atau lainnya bukanlah persoalan wajib atau sunnah. Seorang muslim tidak diharuskan mengikuti salah satunya. Dan bahkan orang yang mengharuskan untuk mengikuti salah satunya sebenarnya ia seorang fanatik. Begitulah menurut Syekh Sulthan.

Lain lagi pendapat syekh Ramadlan Al Buthi dalam bukunya "Alla Mazhabiyyah , Akhtharu bida'in fil Islam" (Tidak bermazhab adalah bid'ah paling berbahaya dalam Islam). Beliau berpendapat wajib bagi seorang muslim untuk mengikuti salah satu mazhab yang masyhur (mazhab empat). Sebab mazhab-mazhab itu sudah teruji kevalidannya. Namun kendati begitu tidak boleh bagi yang telah mengikuti salah satu mazhab tertentu menyalahkan orang di luar mazhabnya.

Dalam buku tersebut beliau membagi kaum muslimin sekarang menjadi dua golongan. Golongan muttabi' dan golongan muqallid. Orang yang telah faham (mengerti) Alqur'an dan sunnah wajib mengikuti mazhab tertentu sebagai kerangka berfikir, supaya ia tidak jatuh pada kesalahan. Golongan inilah yang disebut muttabi' Sementara orang yang belum faham terhadap Alqur'an dan sunnah diharuskan mengikuti ulama yang dianggap mengerti dalam masalah agama.Golongan yang ke dua ini disebut muqallid. Secara implisit beliau meniadakan kelompok yang ketiga, yaitu kelompok mujtahidin. Dengan kata lain beliau menutup pintu ijtihad untuk masa sekarang. Inilah yang kemudian ditentang oleh Muhammad Abu Abbas dalam bukunya "Al mazahibul muta'ashshabah hiyal bid'ah aw bid'atut ta'ashshubi al Mazhabi" Beliau berpendapat justru pintu ijtihad masih terbuka sampai sekarang dengan alasan Nabi telah membuka pintu ijtihad ini dan beliau tidak pernah menutupnya. Karenanya tidak ada seorangpun yang berhak untuk menutup pintu ijtihad tersebut.

Oleh karena itu Muhammad Abu Abbas membagi kaum muslimin pada tiga golongan, yaitu: Mujtahid, muttabi dan muqallid. Bagi mereka yang telah mampu untuk mengetahui dan mengkaji hukum-hukum langsung dari Alqur'an dan Sunnah walaupun hanya dalam masalah tertentu maka haram baginya bertaklid dalam masalah tersebut (golongan mujtahid). Sedangkan bagi mereka yang hanya mampu untuk mengkaji pendapat-pendapat para ulama serta mengetahui metode istimbath (pengambilan hukum) mereka dari Alqur'an dan sunnah maka kewajiban mereka adalah 'ittiba'. Jelasnya ittiba' -mengutip perkataan Abu Syamah- adalah mengikuti pendapat seorang ulama lantaran nyata dalilnya dan shah mazhabnya."

Adapun bagi orang yang betul-betul awam (tidak mengerti dalam masalah agama) BOLEH bagi mereka bertaklid dengan syarat, -sebagaimana dikatakan Imam Asysyatibi dalam ali'tishom- (Pertama) Tidak boleh bertaklid kecuali pada orang yang benar-benar ahli di bidang agama. (Kedua) Tidak boleh mengikat dirinya serta menutup dirinya dari mengikut selain mazhabnya, jika telah jelas padanya bahwa pendapat mazhabnya itu salah,maka wajib baginya mengikuti yang telah jelas kebenarannya.

Pendapat yang terahir inilah yang wasath (pertengahan). Sebab mengharamkan taklid secara mutlak adalah menafikan mereka yang benar-benar awam terhadap agama. Sedangkan mewajibkan taklid dan menutup pintu ijtihad berarti menghilangkan universalitas Islam yang senantiasa relevan dan responsive terhadap perkembangan zaman. Padahal banyak hal-hal baru yang tidak bisa dijawab dan disikapi kecuali dengan ijtihad. Jelasnya setiap orang perlu ditempatkan sesuai dengan kemampuan dan kondisinya.

Berarti fenomena bermadzhab adalah sesuatu yang perlu dilihat berdasarkan kondisi orang per-orang, yang tentunya tidak bisa digeneralisir. Tidak bisa diharuskan secara mutlak dan tidak bisa dilarang secara mutlak pula.
Berkaitan dengan masalah bermazhab ini ada dua hal yang perlu dijauhi oleh setiap muslim:

Fanatisme (ta'ashshub) terhadap suatu madzhab tertentu seraya memonopoli kebenaran apalagi jika sampai menimbulkan perpecahan. Sebab setiap orang kecuali nabi memiliki potensi untuk salah, walaupun ia seorang mujtahid. Karenanya Rasul bersabda : Barang siapa berijtihad dan ia benar maka baginya dua pahala, dan barang siapa berijtihad dan ternyata salah, maka baginya satu pahala."

Tatabbu' rukhas atau mencari-cari pendapat para ulama yang paling mudah dan sesuai dengan seleranya. Perilaku seperti ini berarti mempermainkan agama. Sebab ia menggunakan dalih agama untuk memperturutkan hawa nafsunya. Wallahu a'lam bishshowab.
Read more...
separador

Sedekah yang Baik

Istilah sedekah mengacu pada pemberian yang bersifat sukarela dan sunat hukumnya. Kata sedekah seakar dengan kata al-sidqu yang berarti benar. Ini mengandung makna bahwa orang yang bersedekah telah melakukan cara yang benar dalam menggunakan harta. Meskipun demikian, sedekah bukan hanya dengan menggunakan harta. Sikap yang baik dan menyenangkan hati sesama manusia termasuk sedekah. Nabi Muhammad SAW bersabda, ''Senyum simpulmu kepada saudaramu ketika bertemu adalah sedekah.'' (HR Tirmidzi).

Islam menganjurkan pemeluknya banyak bersedekah karena hal itu tidak mendatangkan kerugian dan membuat orang jatuh miskin, tetapi memberikan manfaat positif dunia dan akhirat. Allah SWT akan mengganti yang disedekahkan dengan karunia lebih baik. Allah SWT berfirman, ''Katakanlah, 'Sesungguhnya Tuhanku melapangkan rezeki bagi siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan menyempitkan bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Dan, barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dialah pemberi rezeki yang sebaik-baiknya.'' (QS 34: 39).

Melalui sedekah, Muslim akan semakin dekat kepada Allah. Ia akan dibalas Allah SWT dengan karunia berupa kenikmatan surga di akhirat kelak. Allah SWT berfirman, ''Dan di antara orang-orang Arab Badwi itu, ada orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, dan memandang apa yang dinafkahkannya (di jalan Allah) sebagai jalan mendekatkannya kepada Allah dan sebagai jalan untuk memperoleh doa Rasul. Ketahuilah, sesungguhnya nafkah itu adalah suatu jalan bagi mereka untuk mendekatkan diri (kepada Allah). Kelak Allah akan memasukkan mereka ke dalam rahmat-Nya (surga-Nya). Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.'' (QS 9: 99). Agar sedekah bermanfaat di dunia dan akhirat kita perlu memperhatikan beberapa ketentuan.

Pertama, sesuatu yang disedekahkan merupakan yang terbaik dan disenangi bagi yang memberikan dan menerimanya. Allah SWT berfirman, ''Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim, dan orang yang ditawan.'' (QS 76: 8). Kedua, sedekah dilakukan secara sukarela, ikhlas, dan tidak riya (pamer). Sedekah bertujuan menjalankan perintah Allah dan mengharapkan keridhoan-Nya. Allah berfirman, ''Sesungguhnya Kami memberi makanan kepadamu hanya untuk mengharapkan keridhoan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula ucapan terima kasih.'' (QS 76: 9).

Ketiga, memberikan sedekah dengan wajar, tidak berlebih-lebihan dan tidak kikir. Firman Allah SWT, ''Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebih-lebihan, dan tidak (pula) kikir, dan (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian.'' (QS 25: 67). Keempat, pemberian sedekah tidak bertujuan mendapatkan balasan kembali, baik dengan jumlah sama atau lebih banyak dari yang disedekahkan. Allah berfirman, ''Dan janganlah kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak.'' (QS 74: 6). Sedekah dengan karakteristik di atas perlu menjadi budaya Muslim sebagai wujud kesalehan, solidaritas sosial, dan bukti persaudaraan antara sesama kita. Apalagi saat ini banyak saudara-saudara kita yang miskin menunggu uluran tangan, bantuan, dan sedekah dari mereka yang mampu. Wallahu a'lam.
Read more...
separador
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Sample Text

Duh Gusti Allah, adakah sisa kasih sayang-Mu?
Hamba celaka, hamba durhaka tidak terkira..
Di manakah hamba sembunyi dari murka-Mu,
selain dalam tak terbatasnya cinta kasih-Mu..

Sholatlah sebelum kamu disholati!!

Jejak Anda

Recent Comments Widget

Mengenai Saya

Foto Saya
Kutoarjo, Jawa Tengah, Indonesia

Qur'an Quotes

Blog Archive

Follow by Email

Ada kesalahan di dalam gadget ini

Recent Posts